Mesin Partai Koalisi Belum Menambah Elektoral Capres

Senin, 11 Maret 2019 | 21:36 WIB
RW
WM
Penulis: Robertus Wardi | Editor: WM
Ketua KPU Arief Budiman (kiri) bersama Pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (tengah) dan Ma'ruf Amin (kedua kiri), Pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kedua kanan) dan Sandiaga Salahudin Uno (kanan) menghadiri Deklarasi Kampanye Damai Pemilu Serentak 2019 di Silang Monas, Jakarta, Minggu 23 September 2018.
Ketua KPU Arief Budiman (kiri) bersama Pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (tengah) dan Ma'ruf Amin (kedua kiri), Pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kedua kanan) dan Sandiaga Salahudin Uno (kanan) menghadiri Deklarasi Kampanye Damai Pemilu Serentak 2019 di Silang Monas, Jakarta, Minggu 23 September 2018. (SP/Joanito De Saojoao/SP/Joanito De Saojoao)

Jakarta, Beritasatu.com – Analis politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Reseach and Consulting Pangi Syarwi Chaniago mengemukakan, mesin partai koalisi belum menambah elektoral kedua pasangan calon presiden (capres) yang bertarung pada pemilu 2019. Mesin partai, di luar PDIP dan Gerindra, lebih sibuk mempersiapkan diri agar kader-kadernya bisa lolos masuk parlemen.

"Mesin partai koalisi pendukung capres di luar mesin utama PDIP dan Gerindra belum punya dampak yang signifikan mendongkrak elektabilitas capres-cawapres. Padahal kunci kemenangan pilpres ada pada mesin partai, figur dan kepiawaian membaca trend perilaku pemilih, apa yang disenangi dan betul-betul mahir membaca apa yang dibutuhkan rakyat," kata Pangi, di Jakarta, Senin (11/3/2019).

Ia menjelaskan, pemilu seretak (concurrent election) yang dilaksanakan untuk pertama kalinya menyisakan dilema yang membuat sebagian besar partai politik peserta Pemilu 2019 pusing tujuh keliling. Pemilihan presiden dan anggota legislatif yang dilaksanakan secara serentak membawa dampak politik yang dikenal dengan istilah coattail effect. Istilah ini dimaknai sebagai karakteristik elektoral adanya pengaruh kuat dari seorang kandidat presiden yang dicalonkan terhadap elektabilitas partai pengsungnya. Namun coattail effect itu tampaknya tidak berjalan karena partai koalisi tidak bisa membangun asosiasi yang kuat terhadap sang kandidat untuk memaksimalkan dukungan terhadap partainya.

Dia menyebut ada tiga logika utama untuk memetakan posisi partai politik yang terjadi. Pertama, "logika koalisi", di mana setiap partai yang tergabung dalam koalisi semestinya mempunyai kesepahaman untuk memenangkan kandidat yang sama-sama mereka usung. Soliditas partai koalisi adalah kunci untuk mewujudkan tujuan ini, namun kontrak politik yang jelas menjadi prasyarat utama.

"Jika prasyarat utama ini tidak terpenuhi, soliditas partai yang tergabung dalam koalisi bisa tergangu. Koalisi yang dibangun dengan kontrak politik yang tidak mengikat anggotanya (political engagement) dengan kuat akan cenderung membuat masing-masing partai "miskin loyalitas" mencari jalan yang menguntungkan bagi partai itu sendiri," jelas Pangi.

Kedua, "logika partai". Partai politik sebagai bagian dari alat untuk memaksimalisasi kekuasaan tentu akan digunakan oleh para anggotanya seoptimal mungkin. Maka partai politik akan memanfaatkan segala sumberdaya yang dimiliki untuk memenangkan partainya. Semakin besar dukungan yang mereka dapatkan akan menentukan posisi tawar mereka dikemudian hari.

"Atas dasar ini, partai politik yang tergabung dalam koalisi yang merasa tidak diuntungkan akan mengambil langkah jalan sendiri bagaimana upaya menyelamatkan partainya. Apapun yang terjadi, siapa pun presiden yang terpilih, yang jelas masa depan partai adalah hal yang utama. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi partai yang tidak punya tiket capres," tuturnya.

Ketiga, "logika elektoral". Situasi politik berkaitan dengan pemilu serentak membawa konsekuensi lain berkaitan dengan coattail effect yang memberi keuntungan maksimal hanya kepada partai formatur ( partai asal capres), sehingga partai non-formatur harus bermain cantik untuk memaksimalkan dukungan terhadap partainya selain upaya asosiatif terhadap kandidat capres yang mereka usung.

"Ketiga logika ini menjadi dasar utama, rasolionalisasi bagi sebagian partai untuk menyelamatkan partainya masing-masing, ketimbang hanya berfokus pada capres yang belum tentu berdampak positif secara elektoral terhadap masa depan partainya," tutup Pangi.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon