Swing Voters Masih Apatis di Pemilu 2019

Selasa, 19 Maret 2019 | 13:56 WIB
YS
JS
Penulis: Yeremia Sukoyo | Editor: JAS
Adhie M Massardi
Adhie M Massardi (Istimewa/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Kualitas Calon Wakil Presiden (Cawapres) dinilai sangat menentukan dan memengaruhi kelompok swing voters atau perilaku pemilih yang berubah atau berpindah pilihan calon dari satu Pemilu ke Pemilu. Diyakini, kelompok swing voters inilah yang akan menentukan siapa pemenang dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

"Wapres perannya cukup penting. Kualitas wapres cukup memengaruhi kelompok swing voters," kata Ketua Perkumpulan Swing Voters indonesia, Adhie Massardi, dalam diskusi Forum Tebet (Forte) yang bertema "Menguji kehebatan Kartu Sakti" atau "Paradoks Kartu Sakti", Selasa (19/3/2019) di Jakarta.

Dikatakan Adhie, dari 100 persen masyarakat pemilih, sebanyak 40 persen ditentukan kualitas capres, sebanyak 15 persen ditentukan kualitas cawapres, kemudian sebanyak 15 persen ditentukan tim suksesnya. Sisanya, ditentukan faktor-faktor lain dalam Pilpres.

Menurutnya, swing voter atau yang juga disebut undecided voters atau massa mengambang, bukan hanya pemilih yang belum menentukan pilihan. Swing voters juga hanya sebagian kecil dari masyarakat yang menjelang Pemilu belum menentukan pilihan.

"Ada apatisme yang besar dari swing voters yang melihat parpol dan tokohnya. Swing voters jika tetap tidak mau menjatuhkan pilihan, maka akan berhubungan dengan angka golput sekitar 25 sampai 28 persen," ujarnya.

Namun demikian, saat ini, swing voters atau massa mengambang yang akhirnya sudah memutuskan pilihan akan mengajak kelompok swing voters lainnya agar tidak golput.

"Swing voters yang baru memutuskan dukungan juga ingin mengajak jangan golput. Caranya ikut mendidik mereka untuk bagaimana menentukan pilihan," kata Adhie.

Menurutnya, kelompok swing voters masih menunggu pelaksanan janji-janji kampanye presiden terpilih sebelumnya. Mereka juga masih menunggu kejutan yang bisa dilakukan petahana. Jika tidak ada kejutan, besar kemungkinan swing voters akan menjadi kelompok yang Golput.

"Debat memang menjadi perhatian, tetapi belum sepenuhnya menjadi alasan pilihan. Masih ada menunggu hal-hal lain. Swing voters menunggu pelaksanaannya, kira-kira sanggup enggak melaksanakannya," ucapnya.

Di sisi lain, mantan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid itu mengingatkan, kelompok swing voters juga merasa terbebani dengan dengan kebohongan-kebohongan di dunia politik. Kata-kata para politisi pun masih diperhatikan kelompok swing voters.

Menurut Adhie, usai debat ketiga yang melibatkan dua cawapres, swing voters lebih tertarik dengan apa yang disampaikan oleh Sandiaga Uno ketimbang Ma'ruf Amin. Alasannya, masih ada sejumlah data yang salah yang disampaikan Ma'ruf Amin.

"Apa yang disampaikan Sandi lebih dipercaya swing voters ketimbang Ma'ruf. Swing voters melihat Ma'ruf Amin datanya banyak yang salah, seperti TKA disebut 0,01, padahal yang tercatat 0,5. Itu yang tercatat. Kemudian kembali mengidolakan kartu sakti," ucapnya.

Praktisi Media, Arief Gunawan, mengapresiasi sejumlah media massa terutama media massa yang bisa langsung merespons berbagai dinamika yang terjadi selama kedua figur cawapres Maruf Amin dan Sandi melakukan debat Pilpres.

Respons tersebut bukan hanya berupa liputan atau reportase berita peristiwa biasa, tetapi juga ikut mengoreksi kesalahan-kesalahan atau ketidakakuratan data yang muncul dari debat cawapres yang mengusung tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya.

"Koreksi atas kesalahan-kesalahan atau ketidakakuratan angka dalam debat tersebut, termasuk pula debat sebelumnya selama dalam masa kampanye Pilpres saat ini juga dilakukan oleh masyarakat luas, yaitu oleh para pengguna sosial media," kata Arief Gunawan.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon