Desa Papua Nugini Diserang, 24 Tewas
Rabu, 10 Juli 2019 | 18:18 WIB
Port Moresby, Beritasatu.com - Sedikitnya 24 orang termasuk dua wanita hamil terbunuh dalam kekerasan antar suku selama tiga hari terakhir di wilayah pegunungan Papua Nugini.
Menurut keterangan pemerintah, peristiwa itu terjadi di Provinsi Hela, wilayah barat negara itu, di mana meletus konflik akibat perebutan wilayah yang mengandung deposit emas.
Selama berabad-abad, konflik antar suku di pegunungan kerap terjadi, tetapi peredaran senjata otomatis membuat konflik makin mematikan.
Administrator Provinsi Hela, William Bando, mengatakan jumlah korban jiwa ini kemungkinan akan bertambah.
"Kami masih menunggu keterangan dari para petugas kami di lapangan," kata Bando, Rabu (10/7/2019). Dia menambahkan 100 polisi dikerahkan untuk membantu tugas sekitar 40 pejabat daerah di TKP.
Perdana Menteri James Marape, yang berasal dari distrik tempat meletusnya konflik itu, bertekad akan mengambil tindakan tegas dan membasmi para perusuh.
"Hari ini adalah salah satu hari paling menyedihkan dalam hidup saya," kata Marape. "Banyak anak dan ibu tak berdosa yang dibunuh di desa Munima dan Karida yang merupakan dapil saya."
Dalam serbuan 30 menit di desa Karida, enam perempuan -- dua di antaranya sedang hamil -- dan delapan anak tewas akibat pukulan dan tembakan.
Petugas medis setempat, Pills Kolo, mengatakan sebagian jenazah sulit dikenali lagi. Dia mengunggah foto-foto jenazah, sebagian dibungkus kasa nyamuk karena tidak ada kantong jenazah.
Foto-foto dari kepolisian menunjukkan jenazah dua bocah usia sekolah, salah satunya dengan cedea parah di bagian kepala.
Serangan itu diduga terkait dengan penyergapan dan pembunuhan enam orang hari sebelumnya.
Marape menuding tiga kepala suku yang terlibat pertikaian dengan suku Tagali memperebutkan deposit emas.
"Para penjahat bersenjata, waktu Anda sudah habis," kata Marape. "Tunggu saja apa yang akan saya lakukan terhadap para penjahat yang membunuh orang-orang tak berdosa, saya tidak takut menggunakan cara paling keras yang dibenarkan hukum untuk melawan kalian."
Dia juga menekankan bahwa hukuman mati sudah diundangkan. Konflik antarsuku kerap terjadi di wilayah pegunungan Papua Nugini, tetapi peristiwa terakhir ini adalah yang paling parah.
Di wilayah itu hanya ada 40 polisi dan 16 tentara.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




