Pegiat Antikorupsi Doa Bersama Bagi Pendemo yang Meninggal

Jumat, 11 Oktober 2019 | 22:17 WIB
FS
WP
Penulis: Fana F Suparman | Editor: WBP
Lima bingkai foto berjejer di atas tiga meja yang ditempatkan di pelataran Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Jumat (11/10/2019) malam.
Lima bingkai foto berjejer di atas tiga meja yang ditempatkan di pelataran Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Jumat (11/10/2019) malam. (Beritasatu Photo/Fana Suparman)

Jakarta, Beritasatu.com - Lima bingkai foto berjejer di atas tiga meja yang ditempatkan di pelataran Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Jumat (11/10/2019) malam. Tak nampak jelas wajah kelima foto itu lantaran seluruh lampu di pelataran Gedung KPK dipadamkan. Cahaya hanya berasal dari lilin yang mengelilingi foto dan puluhan orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala. Dengan bantuan cahaya lilin ini, wajah-wajah di foto terlihat samar.

Mereka merupakan lima korban meninggal dunia terkait demonstrasi menolak revisi UU KPK dan RUU KUHP di depan Gedung DPR dan sejumlah daerah yang berakhir ricuh beberapa waktu lalu, yakni Bagus Putra Mahendra (15), Maulana Suryadi (23) Akbar Alamsyah (19) Randy (22) dan Yusuf Kardawi (19). Pada bagian depan meja foto kelima korban, terdapat poster bertuliskan Rest in Power.

Puluhan orang yang duduk bersimpuh di hadapan kelima foto korban terdiri dari pegawai KPK dan pegiat antikorupsi. Mereka menggelar malam renungan dan doa bersama untuk mendoakan para korban. "Mudah-mudahan kami masih memiliki empati terhadap sesama. Ya Allah kabulkan dan maafkan kesalahan-kesalahan saudara kami, ampuni dosa-dosa kawan-kawan kami," ucap ustaz Nurstofa saat memimpin doa.

Perwakilan dari Walhi, Khalisah Khalid berharap demokrasi Indonesia berjalan baik ke depannya. Khalisah Khalid berharap tak ada lagi kekerasan yang dilakukan oleh aparat dalam meredam aksi demonstrasi. "Bahwa kita masih berharap demokrasi masih ada, bahwa rakyat bisa kita lindungi bersama. 21 tahun reformasi kita berharap tidak ada lagi kekerasan tidak ada laku, air mata dan darah," ungkap Khalisah Khalid.

Berdasar pantauan, Ketua WP KPK, Yudi Purnomo dan penyidik Novel Baswedan turut ikut dalam aksi renungan dan doa tersebut. Perwakilan mahasiswa kemudian membacakan puisi "Kau ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana" karya KH Bisri Mustofa atau karib disapa Gus Mus. Renungan dan doa bersama ini diakhiri dengan menyanyikan bersama lagu 'Darah Juang' karya John Tobing.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon