Kisah Pasien Covid-19, Bunyi Paru-Paru Seperti Keran Dibuka Setengah
Minggu, 10 Mei 2020 | 10:46 WIB
Timika, Beritasatu.com - Kabupaten Mimika menjadi daerah dengan jumlah kasus Covid-19 tertinggi di Provinsi Papua. Hingga 10 Mei 2020 tercatat 97 warga terinfeksi virus corona, dimana 17 pasien sudah sembuh. Pasien sembuh atau sehat jika dua kali sampel usap tenggorokannya yang diperiksa Laboratorium Balitbangkes Provinsi Papua di Jayapura dengan menggunakan PCR tidak lagi mengandung Covid-19 alias negatif.
SPP merupakan salah satu dari 17 pasien yang dinyatakan sembuh di Mimika. Pada 27 April SPP bersama empat pasien lainnya di RSUD Mimika dinyatakan sembuh. Di hari yang sama satu pasien di RS Tembagapura juga dinyatakan sembuh. Hingga kini dia mengaku tidak tahu persis dimana terjangkit wabah yang jadi pandemi global itu.
Dihubungi melalui telefon selulernya, Minggu (10/5/2020), SPP bercerita dirinya bersama sang suami, RDL, tiba kembali di Timika pada 11 Maret 2020 dengan Garuda Indonesia dari Makassar.
Saat itu SPP dan RDL yang merupakan seorang tokoh agama sempat melakukan perjalanan tiga hari ke Surabaya untuk sebuah kegiatan keagamaan. Saat pulang Timika, mereka transit di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.
SPP berkisah saat di Surabaya, dia dan suami berencana hendak ke Pulau Penang, Malaysia. Suaminya dijadwalkan kontrol kesehatan jantung di RS Adventis Penang. "Tiket sudah di tangan, tapi rencana itu batal karena Malaysia sudah memberlakukan lockdown untuk menghentikan penularan virus corona jenis baru," tutur SPP.
Setiba di Timika, SPP dan suami menjalani hidup secara normal. Suaminya yang menjadi Ketua Fasilitator Jaringan Doa se-Timika, seperti biasanya sibuk mengurus berbagai kegiatan keagamaan. Bahkan, setiap Sabtu pagi, RDL selalu mengumpulkan para tokoh agama (biasa disebut Hamba Tuhan) dari setiap denominasi gereja untuk berdoa bagi keselamatan warga dan Kota Timika dari berbagai bencana.
"Jauh sebelum kasus corona sampai di Timika, kami di gereja selalu berdoa dan puasa. Bahkan, saat sudah ada dua orang di Timika yang positif, kami tetap berdoa puasa untuk meminta pertolongan Tuhan agar wabah corona ini tidak masuk sampai di Timika. Bapak setelah kembali ke Timika tetap berdoa terus, tapi kami sudah mengatur jarak duduk dan tidak lagi bersalaman," cerita SPP.
Selanjutnya, pasangan suami isteri yang bermukim di Gorong-gorong, Kelurahan Kebun Siri, Timika, itu mulai menunjukkan tanda dan gejala, seperti influenza, batuk dan demam. Awalnya mereka berkesimpulan mungkin hanya tanda-tanda kelelahan. Lantaran keluhan flu, batuk disertai demam tidak kunjung berhenti, SPP dan RDL memutuskan pergi berobat ke sebuah klinik kesehatan di Timika. Keduanya tidak lupa mengenakan masker penutup mulut dan hidung.
Baca : Dicemooh Warga, Pasien Covid-19 yang Sembuh Akui Keramahan Tenaga Medis
Di klinik kesehatan itu, dokter dan petugas medis sudah mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap dan tidak terjadi sentuhan fisik selama proses pengobatan berlangsung.
"Kejadian itu pada awal bulan April, kami pergi berobat ke klinik. Kami merasa bersalah, tapi saat itu kami tidak tahu kalau sudah terinfeksi Covid-19," kata SPP.
Meski sudah mengonsumsi obat-obatan yang diberikan oleh pihak klinik, namun keluhan flu, batuk dan demam yang dialami pasangan suami isteri itu juga tidak berhenti. Mereka berdua kembali lagi memeriksakan diri ke klinik kesehatan lain lantaran menduga terserang penyakit malaria. Malaria hingga kini menjadi salah satu dari tiga penyakit tertinggi di Mimika, selain infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan diare.
"Saya merasakan gejala mirip seperti terserang malaria, misalnya meriang dan sulit mengonsumsi makanan, tapi hasil pemeriksaan malaria dinyatakan negatif," ujar SPP.
Ketika itu kondisi SPP dan RDL kian bertambah buruk. SPP mengaku mulai mengalami sesak nafas. Keadaannya mulai drop. Dia lalu mencari tahu kondisi penyakitnya melalui internet sehingga berkesimpulan bahwa apa yang mereka alami mengarah ke gejala Covid-19. "Saya sudah tidak bisa cium bau. Saya tes ambil minyak kayu putih, kan (baunya) tajam sekali. Saya taruh banyak di tangan, tapi kok tidak tercium baunya," tutur SPP.
RSUD Mimika
Lantaran kesehatan yang tak kunjung pulih bahkan semakin memburuk, SPP dan RDL kemudian memutuskan untuk memeriksakan diri ke RSUD Mimika. RSUD Mimika merupakan salah satu rumah sakit rujukan penanganan Covid-19 di Provinsi Papua.
Sebelum ke RSUD Mimika, SPP dan suami sudah menyiapkan bekal pakaian, maupun perlengkapan lainnya, terutama kesiapan mental jika kelak keduanya didiagnosis terinfeksi Covid-19.
"Hari itu kami berdua pagi-pagi ke RSUD Mimika. Kami berdua langsung diperiksa, sampai pukul 14.00 WIT dokter memutuskan kami berdua berstatus pasien dalam pengawasan (PDP). Hari itu juga kami diisolasi di RSUD Mimika dan pada sore harinya langsung diambel swab dan diinfus," kata SPP.
Berdasarkan laporan Tim Gugus Tugas Percepatan Pengendalian Covid-19 Mimika, pada 11 April 2020, SPP dan RDL dinyatakan positif terinfeksi Covid-19. Keduanya disebut tertular Covid-19 dari Klaster Surabaya. SPP diregistrasi sebagai Pasien 017, sementara suaminya, RDL diregistrasi sebagai Pasien 018. "Terus terang kami tidak tahu tertular wabah ini dimana, apakah di Surabaya atau waktu transit di Makassar," tuturnya.
Masa-masa awal berada di ruang isolasi RSUD Mimika dilalui SPP dan RDL dengan cukup sulit lantaran mengalami gejala sesak napas berat. Suaminya yang sudah berumur lebih dari 60 tahun dan punya riwayat penyakit jantung, bahkan harus dibantu ventilator, sementara SPP sendiri dibantu oksigen dari hidung. "Saya merasakan paru-paru saya itu bunyi, seperti keran yang dibuka setengah, kayak air mendidih. Tapi saya tidak lapor suami karena dia juga lagi sesak, nanti dia pikiran," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




