Baleg Berkilah Wisata Copenhagen Tidak Direncanakan
Selasa, 11 September 2012 | 15:16 WIB
Sejumlah anggota DPR tertangkap kamera sedang berwisata menyusuri Sungai Copenhagen menggunakan perahu wisata.
Anggota Badan Legislasi (Baleg) Bukhori Yusuf menyatakan kunjungan wisata kapal menelusuri Copenhagen Channel yang dilakukan rombongan Baleg di Denmark tidak direncanakan.
Menurut Bukhori, Baleg tetap pada jalur melakukan studi soal perampungan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Palang Merah Indonesia (PMI). "Kalau kami ke kanal bukan sengaja diatur," kata Politikus PKS itu, di gedung DPR, Jakarta, hari ini.
Dalam kunjungan kerja saat itu, sejumlah anggota DPR tertangkap kamera sedang menyusuri Copenhagen Channel atau Sungai Copenhagen menggunakan perahu wisata.
Bukhori mengatakan, kunjungan tersebut dibutuhkan sebab RUU itu akan memuat hal sensitif misalnya soal rencana penggantian lambang PMI. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Konvensi Jenewa, lanjut dia, sama-sama mengakui dua lambang, red cross dan bulan sabit merah.
"Indonesia ini penduduknya sangat besar, komunitasnya banyak Islam, Kristen, kami perlu memastikan bahwa RUU ini benar-benar terkait dengan gerakan sosial," tutur dia.
Dua negara tujuan Baleg, papar Bukhori, Turki menggunakan bulan sabit merah sementara Denmark menggunakan red cross. "Seperti Malaysia yang tidak pakai palang merah dan ganti jadi bulan sabit, nah kami akan pastikan kondisi batin masing-masing," tandas dia.
Anggota Badan Legislasi (Baleg) Bukhori Yusuf menyatakan kunjungan wisata kapal menelusuri Copenhagen Channel yang dilakukan rombongan Baleg di Denmark tidak direncanakan.
Menurut Bukhori, Baleg tetap pada jalur melakukan studi soal perampungan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Palang Merah Indonesia (PMI). "Kalau kami ke kanal bukan sengaja diatur," kata Politikus PKS itu, di gedung DPR, Jakarta, hari ini.
Dalam kunjungan kerja saat itu, sejumlah anggota DPR tertangkap kamera sedang menyusuri Copenhagen Channel atau Sungai Copenhagen menggunakan perahu wisata.
Bukhori mengatakan, kunjungan tersebut dibutuhkan sebab RUU itu akan memuat hal sensitif misalnya soal rencana penggantian lambang PMI. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Konvensi Jenewa, lanjut dia, sama-sama mengakui dua lambang, red cross dan bulan sabit merah.
"Indonesia ini penduduknya sangat besar, komunitasnya banyak Islam, Kristen, kami perlu memastikan bahwa RUU ini benar-benar terkait dengan gerakan sosial," tutur dia.
Dua negara tujuan Baleg, papar Bukhori, Turki menggunakan bulan sabit merah sementara Denmark menggunakan red cross. "Seperti Malaysia yang tidak pakai palang merah dan ganti jadi bulan sabit, nah kami akan pastikan kondisi batin masing-masing," tandas dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




