Tidak Ada Pembubaran Natal oleh Ormas Intoleran Patut Disyukuri

Minggu, 27 Desember 2020 | 18:08 WIB
TB
FB
Penulis: Tim Beritasatu.com | Editor: FMB
Jemaat menjaga jarak satu dengan lainnya saat mengikuti misa malam Natal di Gereja Katedral ‘Santo Petrus’, Bandung, Jawa Barat, Kamis, 24 Desember 2020. Misa Natal di saat pandemi Covid-19 mengharuskan panitia membatasi jumlah jemaat hingga 230 orang atau sepertiga dari kapasitas maksimal sesuai protokol kesehatan.
Jemaat menjaga jarak satu dengan lainnya saat mengikuti misa malam Natal di Gereja Katedral ‘Santo Petrus’, Bandung, Jawa Barat, Kamis, 24 Desember 2020. Misa Natal di saat pandemi Covid-19 mengharuskan panitia membatasi jumlah jemaat hingga 230 orang atau sepertiga dari kapasitas maksimal sesuai protokol kesehatan. (Suara Pembaruan/Adi Marsiela)

Jakarta, Beritasatu.com - Secara umum perayaan Natal 2020 berlangsung aman dan tidak dinodai oleh aksi teror maupun aksi intoleran berupa razia atribut Natal atau pembubaran ibadah oleh ormas intoleran. Bahkan Menteri Agama (Menag) dalam pesan Natal mengimbau umat Kristiani dan segenap umat beragama lain untuk berpartisipasi aktif menciptakan suasana damai dan harmoni.

Direktur Eksekutif Setara Institute, Ismail Hasani, menilai, berlangsungnya perayaan Natal membuktikan masih adanya kedewasaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

"Secara umum saya kira perayaan Natal tahun ini cukup aman dan ini perlu kita syukuri sebagai bentuk kedewasaan kita dalam berbangsa dan bernegara," kata Ismail Hasani, di Jakarta, Minggu (27/12/2020).

Menurutnya, ada dua hal yang perlu disingkapi perihal kondisi ini. Pertama, perayaan Natal yang aman dan tanpa aksi teror kali ini sedikit banyak dipengaruhi oleh "efek kejut" penindakan negara terhadap imam besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Syihab.

"Yang pertama memang saya setuju bahwa penindakan terhadap Muhammad Rizieq Syihab telah memberikan efek kejut terhadap ormas-ormas intoleran lainnya untuk tidak melakukan persekusi dan juga praktik diskriminasi yang selama ini selalu mewarnai menjelang perayaan Natal," ujarnya.

Efek kejut ini, menurutnya, bisa juga dimaknai sebagai simbol ketegasan negara yang selama ini sebelumnya selalu absen. Saat ini kemudian negara telah menunjukkan ketegasan yang lebih serius.

Kedua, saat ini dirinya mengaku belum bisa melihat faktor menteri agama yang baru sebagai jawaban atas praktik-praktik intoleransi. Karena bagaimanapun, belum melihat kinerjanya lantara baru beberapa hari dilantik.

"Akan akan tetapi saya kira kita semua tahu bahwa promosi toleransi yang dilakukan oleh simbol negara dalam hal ini menteri agama telah memberikan dampak positif pada jajaran di bawahnya untuk kemudian berlaku sama," ujarnya.

Dalam batas-batas tertentu saja, diakui Ismail, bisa dimaknai bahwa situasi ini juga disebabkan atau dikontribusikan oleh pilihan Jokowi terhadap keberadaan Menag yang baru. Walaupun, tentunya masih perlu diuji lagi dalam beberapa waktu ke depan.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon