Kotbah Natal Nasional
Kardinal Ignatius Suharyo: Berbuat Baik Adalah Jati Diri Pengikut Yesus
Minggu, 27 Desember 2020 | 19:52 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Berbuat bagi kepada sesama adalah jadi diri pengikut Yesus. Setiap merayakan Natal, umat Kristen diingatkan untuk berbelas kasih dan selalu berbuat baik kepada sesama.
"Umat Kristiani yang merayakan Natal hendaknya didorong oleh semangat Natal untuk semakin rajin berbuat baik. Karna itulah jati diri murid-murid Kristus. Membangun kehidupan bersama sebagai warga bangsa, bekerja sama dengan pemerintah dan semua yang berkehendak baik, semakin rela berbagi, menjauhkan diri dari godaan untuk mengumbar ujaran kebencian, kebohongan dan keserakahan dalam berbagai macam bentuknya," demikian disampaikan Uskup Agung Jakarta yang juga Kardinal Mgr Ignatius Suharyo, dalam kotbah perayaan Natal Nasional, Minggu (27/12/2020).
Kardinal mengungkapkan, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bersama Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menawarkan tema natal "Dan mereka akan menamakan Dia Immanuel" yang berarti Allah menyertai kita.
"Lewat tema ini kita diundang untuk menyambut Natal dengan keyakinan iman yang kuat bahwa dalam keadaan apapun Tuhan selalu menyertai kita hari demi hari. Penyertaan Tuhan itulah yg menjadi nyata dalam diri Yesus yang disebut Immanuel," jelasnya.
Natal tahun ini, kata Kardinal, dirayakan di tengah pandemi Covid-19, kerasnya ujaran kebencian, dan tersebarnya kebohongan publik. Dalam situasi ini, umat Kristiani harus menampilkan wajah Allah seperti yang diperlihatkan Yesus selama hidup-Nya. Mengutip Kisah Para Rasul, Kardinal menjelaskan, Yesus selama hidup-Nya banyak berkeliling di seluruh negeri di Galilea dan Yudea. Setiap bertemu orang susah, Jesus tergerak oleh belas kasihan, dan Dia pun berbuat baik kepada mereka dengan memberikan bantuan yang dibutuhkan.
Dalam sejarah umat Perjanjian Lama, penyertaan Allah itu, menurut nubuat Nabi Yesaya menjadi amat konkret di dalam diri seorang raja yg disebut Immanuel. Raja itu disebut Immanuel karena Ia melakukan apa yg benar di mata Allah. Tidak seperti raja-raja lain yang selalu dikatakan melakukan apa yang jahat di mata Tuhan.
"Yesus yang kelahirannya kita rayakan adalah Immanuel yang sesungguhnya yg dinubuatkan oleh nabi Yesaya. Dia adalah pribadi yang digambarkan sebagai yang berkeliling sambil berbuat baik. Dia selalu tergerak hatinya oleh belas kasihan kalau melihat orang yang menderita. Dialah pula yang menyerahkan diri bagi kita utk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat kepunyaan-Nya sendiri yang rajin berbuat baik," kata Kardinal.
Dengan demikian, lanjut Kardinal, penyertaan Allah bukan sekadar konsep iman yang indah. Penyertaan Allah itu sungguh datang dalam diri siapapun yg berbuat baik, sekecil apapun perbuatan baik yang dilakukan.
"Merayakan Natal antara lain berarti bersyukur atas kebaikan yang boleh kita alami sampai sekarang, dalam persaudaraan antarsesama warga, keluarga, dalam pelayanan publik, dan dalam berbagai kesempatan lain," jelasnya.
Kardinal juga menekankan, yang perlu disyukuri adalah penyertaan Allah dalam sejarah bangsa Indonesia. "Ada satu doa syukur agung: Sepanjang sejarah Engkau mencurahkan kasih sayang yang begitu besar kepada bangsa kami. Berkat jasa begitu banyak pribadi, Engkau menumbuhkan kesadaran kami sebagai bangsa. Kami bersyukur kepada-Mu atas bahasa yang mempersatukan dan atas Pancasila dasar kemerdekaan kami. Sepanjang sejarah bangsa kita, selalu saja ada tantangan dan rintangan, tapi semua dapat dilewati. Sejarah ini menjadi dasar yg sangat kuat bagi kita semua dalam keadaan apapun untuk selalu melangkah maju dengan penuh harapan dan optimisme
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




