Pengembang Selandia Baru Bidik Konsumen Indonesia
Kamis, 4 Oktober 2012 | 13:08 WIB
Tawaran dari Myland Partners adalah proyek yang cukup khas, yakni menawarkan investasi properti untuk jenis resor.
Myland Partners anak usaha Globe Holdings Ltd, Selandia Baru, menargetkan penjualan berkisar 4-5 juta dolar Selandia Baru dari pasar Indonesia. Nilai penjualan itu berasal dari proyek properti Kingfisher Great Lake Taupo, Selandia Baru.
"Total proyek kaveling properti kami sebesar 15 juta dolar Selandia Baru, sekitar sepertiganya kami harapkan terserap pasar Indonesia," jelas Farhad Moinfar, direktur Myland Partners Corp seperti dikutip dariInvestor Daily, Kamis (4/10).
Dia menjelaskan, kaveling-kaveling yang ditawarkan itu bagian dari proyek terpadu resor di tepi danau.
Total nilai proyek yang juga mencakup hotel bintang lima itu, tambahnya, bisa menyentuh angka 20 juta dolar Selandia Baru.
Farhad optimistis pasar Indonesia menyerap tawaran yang disodorkan pihaknya. Selain Indonesia, Myland Partners juga membidik pasar Singapura dan Malaysia.
"Apalagi keuntungan yang ditawarkan cukup bagus," jelas dia.
Menurut Agatha Meydiana F, presiden direktur Indoproperty Real Estate, agen pemasar properti mitra Myland di Indonesia, untuk harga kaveling tersebut bakal mendapat diskon sekitar 45%.
Sehingga, katanya, keuntungan para investor yang membeli tanah di Kingfisher Great Lake bakal bertambah.
"Jika tanahnya dibangun cottage, bakal mendapat return on investment (ROI) sekitar 7%," kata Meydiana.
Menurut dia, tawaran dari Myland Partners adalah proyek yang cukup khas, yakni menawarkan investasi properti untuk jenis resor.
Biasanya, kata dia, para pengembang asing seperti dari Australia dan Singapura, pada umumnya menawarkan proyek apartemen.
Farhad menegaskan, besaran ROI untuk cottage tersebut digaransi selama dua tahun. Sedangkan keuntungan lain, ujarnya, harga tanah di kawasan tersebut terus meningkat.
Tahun 2011, katanya, harga tanah naik 20%, sedangkan harga unit hunian yang terjual sebesar 10%.
Proyek tersebut, tambah dia, terletak di North Island, di tepi Lake Tauopo, danau terbesar di Selandia Baru. Kawasan itu adalah sebuah resor eksklusif seluas 19 hektare (ha).
Terdapat sebanyak 75 hunian eksklusif yang terdiri atas 30 lakefront properties dan 45 lakeview properties.
Resor tersebut dikelola secara eksklusif dengan fasilitas lengkap seperti exclusive clubhouse, gymnasium, kolang renang indoor, lapangan tenis, boat ramp, dan dermaga serta layanan full time on-site property management.
Termasuk, kata Farhad, pihaknya menyediakan layanan untuk membantu proses keimigrasian di Selandia Baru.
Pemerintah Selandia Baru, kata dia, memberi kemudahan mengurus kewarganegaraan atau keimigrasian bagi para investor properti.
"Khususnya bagi proyek properti yang sedang dibangun. Warga Negara asing diizinkan memiliki tanah di Selandia Baru," jelas Farhad.
Myland Partners anak usaha Globe Holdings Ltd, Selandia Baru, menargetkan penjualan berkisar 4-5 juta dolar Selandia Baru dari pasar Indonesia. Nilai penjualan itu berasal dari proyek properti Kingfisher Great Lake Taupo, Selandia Baru.
"Total proyek kaveling properti kami sebesar 15 juta dolar Selandia Baru, sekitar sepertiganya kami harapkan terserap pasar Indonesia," jelas Farhad Moinfar, direktur Myland Partners Corp seperti dikutip dariInvestor Daily, Kamis (4/10).
Dia menjelaskan, kaveling-kaveling yang ditawarkan itu bagian dari proyek terpadu resor di tepi danau.
Total nilai proyek yang juga mencakup hotel bintang lima itu, tambahnya, bisa menyentuh angka 20 juta dolar Selandia Baru.
Farhad optimistis pasar Indonesia menyerap tawaran yang disodorkan pihaknya. Selain Indonesia, Myland Partners juga membidik pasar Singapura dan Malaysia.
"Apalagi keuntungan yang ditawarkan cukup bagus," jelas dia.
Menurut Agatha Meydiana F, presiden direktur Indoproperty Real Estate, agen pemasar properti mitra Myland di Indonesia, untuk harga kaveling tersebut bakal mendapat diskon sekitar 45%.
Sehingga, katanya, keuntungan para investor yang membeli tanah di Kingfisher Great Lake bakal bertambah.
"Jika tanahnya dibangun cottage, bakal mendapat return on investment (ROI) sekitar 7%," kata Meydiana.
Menurut dia, tawaran dari Myland Partners adalah proyek yang cukup khas, yakni menawarkan investasi properti untuk jenis resor.
Biasanya, kata dia, para pengembang asing seperti dari Australia dan Singapura, pada umumnya menawarkan proyek apartemen.
Farhad menegaskan, besaran ROI untuk cottage tersebut digaransi selama dua tahun. Sedangkan keuntungan lain, ujarnya, harga tanah di kawasan tersebut terus meningkat.
Tahun 2011, katanya, harga tanah naik 20%, sedangkan harga unit hunian yang terjual sebesar 10%.
Proyek tersebut, tambah dia, terletak di North Island, di tepi Lake Tauopo, danau terbesar di Selandia Baru. Kawasan itu adalah sebuah resor eksklusif seluas 19 hektare (ha).
Terdapat sebanyak 75 hunian eksklusif yang terdiri atas 30 lakefront properties dan 45 lakeview properties.
Resor tersebut dikelola secara eksklusif dengan fasilitas lengkap seperti exclusive clubhouse, gymnasium, kolang renang indoor, lapangan tenis, boat ramp, dan dermaga serta layanan full time on-site property management.
Termasuk, kata Farhad, pihaknya menyediakan layanan untuk membantu proses keimigrasian di Selandia Baru.
Pemerintah Selandia Baru, kata dia, memberi kemudahan mengurus kewarganegaraan atau keimigrasian bagi para investor properti.
"Khususnya bagi proyek properti yang sedang dibangun. Warga Negara asing diizinkan memiliki tanah di Selandia Baru," jelas Farhad.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




