5 Orang Tewas dalam Penyakit Mematikan di Ibu Kota Uganda
Selasa, 23 Oktober 2012 | 02:10 WIB
Jika keadaan memburuk, petugas akan memberlakukan karantina.
Sebuah wabah virus Marburg yang mematikan di Uganda, telah menyebar di ibu kota negara itu, Kampala, setelah seorang perempuan yang terinfeksi, melakukan perjalanan ke Kampala dan kematian pun ditimbulkan virus yang masih “bersaudara” dengan Ebola. Total korban telah mencapai lima orang, menurut seorang petugas kesehatan.
Wabah terbaru dari penyakit demam yang menyebabkan pendarahan ini, pertama kali dikonfirmasi pada Jumat (19/10) di distrik Kabale, 430 km arah barat daya dari Kampala, kemudian langsung mengguncang negara itu yang dua pekan sebelumnya mendeklarasikan diri telah bebas dari Ebola setelah memakan korban 16 orang.
Belum ada vaksin atau perawatan khusus untuk virus Marburg, yang juga dikenal sebagai demam pendarahan Marburg yang menular melalui cairan tubuh seperti air liur dan darah atau menyentuh hewan liar yang terinfeksi seperti kera.
“Kami memiliki satu kasus yang terkonfirmasi di Rumah Sakit Mulago ketika jumlah yang meninggal telah menjadi lima orang,” kata Rukia Nakamatte, juru bicara bagi Kementerian Kesehatan kepada Reuters, Senin (22/10).
“Tiga puluh empat orang yang telah melakukan kontak dengan korban telah dimonitor dan sebuah ruang isolasi tengah didirikan,” kata Nakamatte.
Seorang petugas kesehatan belum bisa menentukan asal mula infeksi Marburg ini namun direktur jenderal layanan kesehatan Uganda, Dr. Ruth Aceng mengatakan pada Jumat (19/10) bahwa wabah demam pendarahan di Uganda, cenderung terjadi antara Juni dan September.
Ini adalah periode ketika para penduduk desa pergi ke hutan untuk mengambil buah-buahan yang cenderung kemudian melakukan kontak dengan hewan-hewan liar seperti kelelawar buah yang merupakan inang alami bagi virus Marburg.
Elly Matte, juru bicara polisi di Kabale mengatakan, orang-orang telah diperingatkan tentang wabah virus ini. “Kami kemungkinan akan memberlakukan karantina jika situasinya memburuk,” katanya.
Petugas-petugas Kesehatan Uganda, sebagai tindakan pencegahan, telah mendesak orang-orang untuk menghindari acara pertemuan publik dan melakukan kontak tubuh. WHO telah memberangkatkan sebuah tim ke distrik tersebut untuk mendukung investigasi dan respon bagi wabah ini.
Wabah Marburg sebelumnya di Uganda, terjadi pada 2007 dan membunuh dua penambang di kawasan barat sementara kejadian paling parah dan mematikan terjadi pada tahun 2000 ketika 425 orang terkena Ebola dan lebih dari setengahnya mati.
Marburg, yang masih satu keluarga dengan virus Ebola, diawali dengan sakit kepala hebat kemudian diikuti pendarahan dan dalam wabah sebelumnya di Afrika, 80 persen kematian yang terjadi dalam kasus-kasus ini, biasanya kematian terjadi dalam waktu delapan hingga sembilan hari.
Meski kedua virus ini sangat menular dan memiliki fatalitas kasus yang tinggi, Marburg memiliki periode inkubasi yang pendek, antara 14 hari, dibandingkan Ebola yang 21 hari.
Sebuah wabah virus Marburg yang mematikan di Uganda, telah menyebar di ibu kota negara itu, Kampala, setelah seorang perempuan yang terinfeksi, melakukan perjalanan ke Kampala dan kematian pun ditimbulkan virus yang masih “bersaudara” dengan Ebola. Total korban telah mencapai lima orang, menurut seorang petugas kesehatan.
Wabah terbaru dari penyakit demam yang menyebabkan pendarahan ini, pertama kali dikonfirmasi pada Jumat (19/10) di distrik Kabale, 430 km arah barat daya dari Kampala, kemudian langsung mengguncang negara itu yang dua pekan sebelumnya mendeklarasikan diri telah bebas dari Ebola setelah memakan korban 16 orang.
Belum ada vaksin atau perawatan khusus untuk virus Marburg, yang juga dikenal sebagai demam pendarahan Marburg yang menular melalui cairan tubuh seperti air liur dan darah atau menyentuh hewan liar yang terinfeksi seperti kera.
“Kami memiliki satu kasus yang terkonfirmasi di Rumah Sakit Mulago ketika jumlah yang meninggal telah menjadi lima orang,” kata Rukia Nakamatte, juru bicara bagi Kementerian Kesehatan kepada Reuters, Senin (22/10).
“Tiga puluh empat orang yang telah melakukan kontak dengan korban telah dimonitor dan sebuah ruang isolasi tengah didirikan,” kata Nakamatte.
Seorang petugas kesehatan belum bisa menentukan asal mula infeksi Marburg ini namun direktur jenderal layanan kesehatan Uganda, Dr. Ruth Aceng mengatakan pada Jumat (19/10) bahwa wabah demam pendarahan di Uganda, cenderung terjadi antara Juni dan September.
Ini adalah periode ketika para penduduk desa pergi ke hutan untuk mengambil buah-buahan yang cenderung kemudian melakukan kontak dengan hewan-hewan liar seperti kelelawar buah yang merupakan inang alami bagi virus Marburg.
Elly Matte, juru bicara polisi di Kabale mengatakan, orang-orang telah diperingatkan tentang wabah virus ini. “Kami kemungkinan akan memberlakukan karantina jika situasinya memburuk,” katanya.
Petugas-petugas Kesehatan Uganda, sebagai tindakan pencegahan, telah mendesak orang-orang untuk menghindari acara pertemuan publik dan melakukan kontak tubuh. WHO telah memberangkatkan sebuah tim ke distrik tersebut untuk mendukung investigasi dan respon bagi wabah ini.
Wabah Marburg sebelumnya di Uganda, terjadi pada 2007 dan membunuh dua penambang di kawasan barat sementara kejadian paling parah dan mematikan terjadi pada tahun 2000 ketika 425 orang terkena Ebola dan lebih dari setengahnya mati.
Marburg, yang masih satu keluarga dengan virus Ebola, diawali dengan sakit kepala hebat kemudian diikuti pendarahan dan dalam wabah sebelumnya di Afrika, 80 persen kematian yang terjadi dalam kasus-kasus ini, biasanya kematian terjadi dalam waktu delapan hingga sembilan hari.
Meski kedua virus ini sangat menular dan memiliki fatalitas kasus yang tinggi, Marburg memiliki periode inkubasi yang pendek, antara 14 hari, dibandingkan Ebola yang 21 hari.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




