Iluni UI Ingatkan Proyek IKN Jangan Sampai Mangkrak

Minggu, 20 Februari 2022 | 14:22 WIB
RS
B
Penulis: Rully Satriadi | Editor: B1
Pradesain Istana Negara di ibu kota negara yang baru karya seniman patung Nyoman Nuarta.
Pradesain Istana Negara di ibu kota negara yang baru karya seniman patung Nyoman Nuarta. (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) Andre Rahadian mengingatkan agar proyek pemindahan ibu kota negara (IKN) ke Kalimantan Timur jangan sampai mangkrak. Menurut Andre, pembangunan IKN harus berkelanjutan hingga pemerintahan berikutnya.

"Jangan sampai ini jadi proyek yang tidak bisa diteruskan apalagi ini di akhir permerintahan. Kita harapkan keberlanjutan proyek IKN. Persiapan di awal sudah matang," papar Andre dalam sambutannya di acara diskusi daring Forum Diskusi Salemba ke-77 dengan tema "Menelaah Proses Perpindahan Ibu Kota Negara", Sabtu (19/2/22).

Andre menegaskan komitmen Iluni UI untuk mengawal proses pemindahan IKN agar berjalan sesuai koridor perundangan dan tujuan pembangunan bangsa. "Iluni UI juga siap memberikan masukan, salah satunya melalui policy paper rekomendasi dari diskusi hari ini dan para pakar," ujarnya.

Ketua Policy Center Iluni UI M Jibriel Avessina menambahkan, ada konsen atas proses kehadiran ibu kota baru. Proses pengesahan undang-undang IKN dinilai begitu cepat. Selain itu, partisipasi dari masyarakat tergolong minim, serta ada polemik atas regulasi.

Dia meminta dari segi teknis semuanya perlu dicermati dan dikawal secara seksama. Namun, Jibriel mengapresiasi semangat pemindahan ibu kota sebagai wujud pola pembangunan Indonesia sentris yang perlu didukung dengan optimal.

"Pembangunan ibu kota baru bukan sekadar hanya urusan teknis saja, tetapi juga upaya menjaga ikatan kohesi kebangsaan kita ke depan," ujar dia.

Direktur Eksekutif Rujak Center for Urban Studies Elisa Sutanudjaja mengatakan, berdasarkan argumen permerintah dan tokoh terkait, dia melihat adanya usaha membuat IKN jadi seperti Shenzhen dan Dubai.

Keinginan ini dipahami karena ada banyak negara yang berharap menjadi global hub dan kota kelas dunia. Padahal Shenzhen maupun Dubai hanya segelintir dari 5.400 zona ekonomi khusus dalam rupa penetapan kawasan, pembangunan kawasan baru, dan pembangunan kota baru yang sudah terjadi pada 2019.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon