Kisah Terjal Warga Grobogan Cari Air Bersih, Lewati Jalan Ekstrem hingga Antre Panjang
Minggu, 10 September 2023 | 18:42 WIB
Grobogan, Beritasatu.com - Krisis air bersih yang dialami warga di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah cukup memprihatinkan. Mereka punya kisah terjal untuk mencari air bersih, dari melewati jalan ekstrem hingga antre panjang.
Untuk mendapatkan air bersih, mereka harus menempuh jarak cukup jauh dan melewati jalan ekstrem. Kabupaten Grobogan merupakan wilayah terparah di Jateng terkait dampak kemarau panjang. Ada 101 desa yang mengalami krisis air bersih.
Suyamto, seorang penduduk Desa Sugihmanik, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, mengalami kesulitan karena sumur di desanya mulai mengering setelah kemarau panjang berlangsung selama sebulan terakhir atau saat musim kemarau.
Untuk mendapatkan air, Suyamto harus melalui jalan setapak yang sangat sulit dengan sepeda motor yang dilengkapi dengan keranjang untuk membawa jerigen dan galon air. Keamanan menjadi prioritas karena saat mengangkut beban penuh.
Tantangan perjalanan belum berakhir saat Suyamto tiba di sumber mata air. Di sana, dia harus mengantre bersama warga lainnya. Dia harus berkendara sekitar 4 kilometer.
Suyamto telah bolak-balik ini sejak akhir Agustus 2023, dengan membawa air dalam jumlah besar hingga lebih dari enam kali dalam sehari.
"Mencari air adalah keharusan, meskipun harus jauh seperti ini. Kami selalu mencari sumber mata air ini, tidak pernah di tempat lain," ungkap Suyamto kepada Beritasatu.com, Minggu (10/9/2023).
Relawan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Grobogan datang sesekali untuk mengirimkan bantuan air bersih. Namun, bantuan ini hanya mencukupi selama satu hari karena Suyamto tidak memiliki tempat penyimpanan air yang cukup besar di rumahnya.
"Situasi di daerah saya sangat sulit karena mata airnya sudah habis. Kami mendapatkan bantuan, tetapi kebutuhan air sangat besar, dan sekali seminggu tidak cukup," jelasnya.
Sumber mata air Sendang Sari menjadi satu-satunya harapan bagi warga Desa Sugihmanik dan desa-desa sekitarnya. Pada pagi dan sore hari, sumber ini ramai didatangi warga untuk mengisi air. Namun, kemarau berkepanjangan telah menyebabkan volume air di sendang berkurang dibandingkan kondisi normal.
"Sendang Sari adalah satu-satunya harapan kami. Kami datang ke sini setiap hari, jika belum penuh, kami datang lagi hingga mencukupi kebutuhan kami di rumah," kata warga lain, Ria, sambil mengambil air untuk keperluan mandi keluarganya di sore hari.
Data dari BPBD Provinsi Jawa Tengah mengungkapkan, Desa Sugihmanik adalah salah satu dari 101 desa di Kabupaten Grobogan yang terkena dampak kekeringan akibat kemarau panjang.
Kabupaten Grobogan menempati peringkat kedua dalam daftar wilayah yang paling terdampak setelah Kabupaten Blora, yang menghadapi kekeringan di 119 desa. Sebanyak 32 kabupaten/kota di Jawa Tengah juga terkena dampak kekeringan, dan masing-masing BPBD telah melakukan distribusi air bersih sebagai upaya penanganan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s





