IES 2026: Retno Marsudi Tekankan Krisis Air Bisa Ganggu Ekonomi
Rabu, 4 Februari 2026 | 18:26 WIB
Beritasatu.com – Indonesia Economic Summit (IES) 2026 yang berlangsung selama dua hari di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, menutup rangkaian diskusi dengan penekanan kuat pada arah investasi berkelanjutan dan ketahanan ekonomi jangka panjang.
Forum yang mempertemukan pemimpin pemerintahan, pelaku usaha, dan mitra internasional ini menyoroti pentingnya sinergi kebijakan publik dan sektor swasta dalam menjawab tantangan global yang semakin kompleks.
Sepanjang penyelenggaraan, berbagai sesi membahas transformasi industri, penguatan daya saing, serta strategi pembiayaan untuk mendukung pertumbuhan yang lebih inklusif. Isu transisi energi, ekonomi hijau, hingga penguatan rantai pasok menjadi tema dominan dalam diskusi lintas sektor tersebut.
Salah satu sesi yang menyita perhatian adalah IES Perspectives 3 bertajuk Investing for the Future We Want. Sesi ini menekankan keputusan investasi hari ini akan sangat menentukan masa depan ekonomi sekaligus keberlanjutan lingkungan Indonesia di tengah tekanan perubahan iklim dan ketidakpastian global.
Mantan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi hadir sebagai pembicara utama dalam sesi tersebut. Ia menyoroti bahwa keberlanjutan, terutama yang berkaitan dengan air, energi, dan sistem alam, kini telah menjadi fondasi penting bagi produktivitas dan ketahanan ekonomi jangka panjang.
“2 miliar orang masih belum memiliki layanan kebersihan dasar, termasuk 635 juta orang yang sama sekali tidak memiliki fasilitas. Data lain menunjukkan empat miliar orang mengalami kelangkaan air parah setidaknya satu bulan setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 2030, kebutuhan air global diproyeksikan akan melampaui ketersediaannya hingga 40%,” katanya dalam sesi forum IES pada Rabu (4/2/2025).
Retno menegaskan persoalan air tidak lagi dapat dipandang semata sebagai isu lingkungan. Menurutnya, krisis air telah berkembang menjadi tantangan ekonomi global yang berdampak langsung terhadap dunia usaha dan keberlanjutan pertumbuhan.
“Air penting bagi semua pihak, termasuk sektor swasta dan seluruh kegiatan bisnis Anda. Hampir 60% PDB global, sekitar US$ 58 triliun, bergantung secara sedang hingga tinggi pada ketersediaan air. Karena itu, air bukan hanya isu lingkungan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan degradasi sumber daya air kini mengancam stabilitas rantai pasok global. Kondisi ini membuat risiko air bertransformasi menjadi risiko operasional bagi banyak industri, mulai dari pangan, manufaktur, hingga energi.
“Namun, lebih dari setengah sumber air tawar dunia kini telah tercemar dan mengalami degradasi. Artinya, rantai pasok global kita bergantung pada sistem air yang semakin rapuh, bahkan di banyak tempat sudah mulai gagal,” tegasnya.
Melalui sesi ini, IES 2026 menegaskan kembali pentingnya investasi yang tidak hanya mengejar pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga memperhitungkan keberlanjutan sumber daya alam.
Forum tersebut mendorong lahirnya kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah dan pelaku usaha agar arah pembangunan ekonomi Indonesia tetap tangguh, inklusif, dan relevan untuk dekade mendatang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




