ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Hadapi Kemarau, Pakar UGM Sarankan Peternak Gunakan Pakan Fermentasi Jerami dan Limbah Jagung

Sabtu, 24 Agustus 2024 | 08:40 WIB
CN
NF
Penulis: Chandra Adi Nurwidya | Editor: NF
Hadapi kemarau, pakar UGM sarankan peternak gunakan pakan fermentasi jerami dan limbah jagung.
Hadapi kemarau, pakar UGM sarankan peternak gunakan pakan fermentasi jerami dan limbah jagung. (Beritasatu.com/Chandra Adi)

Yogyakarta, Beritasatu.com –  Memasuki musim kemarau, para peternak menghadapi tantangan besar dalam menyediakan pakan bagi ternak mereka. Ketersediaan rumput segar yang biasanya menjadi sumber utama pakan menurun drastis akibat kekeringan. 

Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan peternak terkait kemampuan mereka untuk menjaga kesehatan dan produktivitas ternak.

Guru besar fakultas peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Ali Agus, menyarankan solusi inovatif untuk mengatasi masalah ini, yaitu dengan beralih ke pakan fermentasi. Pakan fermentasi, menurut Ali dapat menjadi alternatif yang efektif dalam menghadapi kelangkaan pakan selama musim kemarau.

ADVERTISEMENT

"Pakan fermentasi bisa memanfaatkan limbah pertanian, seperti jerami padi, tebon jagung, dan pucuk tebu. Limbah ini pada dasarnya memiliki kandungan gizi yang rendah, karena zat utamanya telah diambil untuk kebutuhan manusia. Misalnya, biji jagung dan beras diambil, sedangkan sisanya menjadi limbah yang tidak memiliki nilai gizi tinggi bagi ternak," jelas Ali kepada Beritasatu.com, Jumat (23/8/2024).

Namun, teknologi fermentasi atau fermented total mix ration (FMTR) dapat meningkatkan nilai gizi dari limbah pertanian tersebut.

"Teknologi yang kami kembangkan bertujuan untuk meningkatkan nilai gizi limbah ini melalui proses fermentasi. Dengan begitu, pakan yang dihasilkan dapat mendukung pertumbuhan ternak secara optimal," jelasnya.

Ali menjelaskan,  hasil fermentasi ini akan dikemas dalam heavy bag jumbo yang berkapasitas 600 kilogram (kg) sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu lama.

"Kita menggunakan tebon jagung segar yang dicacah dan dicampur dengan bahan lain. Lalu dikedapkan dan difermentasi. Hasilnya adalah silase yang merupakan campuran pakan yang siap digunakan tanpa perlu tambahan pakan lain," katanya.

Heavy bag tersebut tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari 100 kg hingga 600 kg, yang dapat memudahkan transportasi dan penyimpanan. Teknologi ini, menurut Ali Gus, dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengantisipasi kesulitan pakan di musim kemarau.

Lebih lanjut, Ali menyatakan bahwa teknologi ini juga membuka peluang bisnis baru di sektor peternakan.

"Bisnis pakan fermentasi ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara komersial. Peternak nantinya bisa dengan mudah memesan pakan fermentasi tanpa perlu repot mencari rumput." katanya.

Pakan FTMR lebih menjamin meratanya distribusi asupan ransum harian dan mampu menyumbang kebutuhan serat yang sangat penting bagi stabilitas ekosistem rumen (organ lambung).  Fermentasi pakan FTMR dapat meningkatkan daya simpan di musim kemarau (pasokan pakan kurang)

Ali berharap teknologi pakan fermentasi ini dapat menjadi solusi bagi peternak dalam menghadapi tantangan musim kemarau, sekaligus mendorong perkembangan industri pakan di Indonesia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon