Jenazah Wagub Papua Disambut Isak Tangis di Bandara Mozes Kilangin
Minggu, 23 Mei 2021 | 23:36 WIB
Timika, Beritasatu.com - Jenazah Wakil Gubernur (wagub) Papua, Klemen Tinal tiba di Bandara Internasional Mozes Kilangin, Timika, Kabupaten Mimika, Papua, Minggu (23/5), sekitar pukul 13.00 WIB. Isak tangis warga pecah tatkala pesawat yang membawa jenazah mantan bupati Mimika dua periode tersebut menyentuh landasan pacu bandara.
"Warga menangis saat pesawat mulai muncul dan mendarat. Mereka malah nekat memasuki gerbang masuk bandara untuk melihat dari dekat peti jenazah. Namun, aparat keamanan menghadang warga agar prosesi penjemputan jenazah berlangsung lancar," ujar anggota DPD dari Daerah Pemilihan (dapil) Papua, Herlina Murib dalam keterangan seperti diterima Beritasatu.com, Minggu (23/5/2021).
Senator perempuan asal Papua dua periode ini mengatakan, warga sempat bersikukuh hendak masuk ke dalam areal bandara, karena mereka sangat rindu melihat dari dekat peti jenazah Klemen. Jenazah Klemen dibawa ke Pendopo Rumah Negara Pemerintah Kabupaten (pemkab) Mimika untuk disemayamkan.
"Niat warga tak kesampaian karena diadang petugas keamanan. Setiba di bandara jenazah Pak Wakil Gubernur Klemen Tinal harus diterima secara kedinasan untuk selanjutnya dibawa ke Pendopo Rumah Negara Pemkab Mimika, Pak Eltinus Omaleng untuk diterima dengan upacara kedinasan. Di Pendopo Rumah Negara, kerabat almarhum dan warga dari berbagai daerah di Indonesia yang tinggal di Timika memberikan penghormatan terakhir," kata Herlina.
Sementara itu, Tenaga Ahli anggota DPD asal Papua Eka Yeimo mengatakan antusiasme masyarakat berkumpul baik di bandara maupun di rumah jabatan bupati Mimika untuk melihat dari dekat jenazah, menggambarkan Klemen bukan sekadar milik orang Beoga dan suku Dani. Namun, Klemen merupakan pemimpin milik semua suku seluruh Nusantara yang menetap di Papua, terutama Mimika.
"Wakil Gubernur Papua Bapa Klemen Tinal bukan hanya milik warga Mimika atau Papua. Almarhum itu sudah menjadi milik semua dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas hingga Pulau Rote. Saat jenazah tiba semua orang menyambut dengan isak tangis," kata Eka.
"Mereka sungguh kehilangan pemimpin dan orang yang dikasihi orang. almarhum semasa hidup dikenal sebagai pribadi yang berbaur di tengah masyarakat, mendengar apa kegelisahaan yang dirasakan warga," ujar warga asli Papua lulusan Program Pascasarjana Universitas Indonesia tersebut.
Ketika di pendopo, menurut Eka, petugas sampai mengingatkan warga yang sudah melihat peti jenazah dari dekat agar segera bergeser. Tujuannya agar memberikan kesempatan kepada warga lainnya.
"Suasana sangat mengharuhkan karena warga sungguh merasa kehilangan seorang tokoh dari kampung yang mengabdi bangsa dan negara mulai dari daerah hingga dipercaya mengemban tugas lainnya di tingkat nasional dalam berbagai penugasan," kata Eka.
Kepala SMA Negeri Sentra Pendidikan Timika Yohanes Napan Labaona juga merasa sangat sedih kehilangan sosok Klemen. Di mata Labaona, Klemen adalah tokoh besar bidang pendidikan yang sangat menaruh perhatian dengan pendidikan bagi generasi muda di Tanah Papua, terutama di Mimika.
Sementara itu, guru kelahiran Desa Atawai, Nagawutun, Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Napan, Klemen merupakan pemimpin yang merakyat. Dikatakan, Klemen selalu membantu merampungkan pembangunan fisik rumah-rumah ibadah dan sekolah-sekolah. Atas jasa Klemen, guru-guru di Mimika disebut menjadi sejahtera. Guru-guru yang mengabdi di pedalaman Mimika, menjadi betah karena kebijakan tunjangan fungsional diberikan berdasarkan jarak tempat tugas dari Timika.
"Jadi guru-guru yang mengabdi di pedalaman tunjangannya lebih mahal dibanding yang mengabdi di kota. Jadi, para guru yang mengabdi di pedalaman senang sekali dan betah karena kebijakan paitua Klemen membayar tunjangan mereka. Pendidikan menadi sentra perhatian paitua Klemen dan dilanjutkan Bupati Eltinus Omaleng," kata Napan.
"Baik almarhum paitua Klemen dan Pak Eltinus sungguh mencintai masa depan pendidikan anak-anak asli dan anak-anak lainnya di wilayah Mimika. Kami sungguh kehilangan paitua Klemen. Almarhum meninggalkan legasi, warisan berharga bagi warga di lereng Gunung Nemangkawi," kata guru lulusan FKIP Universitas Flores, Ende, tersebut.
Diketahui, Klemen Tinal lahir di kampung Beoga, Mimika, Papua, 23 Agustus 1970. Klemen menikah dengan Yolanda Tinal, dan dikaruniai tiga anak, yaitu Lidia Natalia Tinal, William Tinal, dan Daud Salomon Tinal. Jejak perjalanan pendidikan membanggakan. Saat jenazah tiba di Timika, jenazah dan seluruh anggota keluarga, termasuk Trifena Tinal, adik kandungnya yang juga anggota DPR disambut isak tangis warga.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




