Tokoh Agama Papua Ingatkan Bahaya Hoaks dan Propaganda
Sabtu, 24 Juli 2021 | 09:26 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kondisi tanah Papua sangat damai dan terus membangun. Hanya saja, banyak beredar propaganda dan hoaks (berita palsu) yang memunculkan berita negatif terkait keamanan Papua.
"Ini sangat disayangkan," ujar Ketua Persatuan Gereja-geraja di Papua Pdt Metusalah PA Mauri usai webinar dengan tema "Konflik Keamanan di Papua dan Solusinya yang diselengarakan Moya Institute, Jumat (23/7/2021).
Menurut Mauri adanya konflik di Papua semua prihatin, saudara dari Sabang sampai Merauke, dari pulau Miangas sampai Rote.
"Karena kita satu bangsa, bahasa dan tumpah darah. Kalau ada yang merasa sakit, semua merasa sakit, meski berbeda kita tetap satu dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Perlu diketahui, sejarah Papua dibelokkan Belanda dan OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang mendukung," ujar Mauri.
Mauri mengemukakan, adanya permasalahan atau konflik keamanan di Papua karena adanya kelompok separatis. Dengan kondisi tersebut, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) turun tangan untuk menangani masalah keamanan.
Dia menambahkan, salah satu solusinya adalah dengan menginventarisir masalah atau isu di Papua.
"Misalnya adanya isu politik, dana otsus (otonomi khusus) ekonomi, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, Freeport. Isu itu perlu diinventarisir. Dengan data yang akurat akan bisa diselesaikan masalah dengan baik. Tentu dengan menggunakan hati nurani, cinta juga dengan Papua, dan peradaban nusantara sebagai bagian dari anak bangsa," terang Mauri.
Dia mengungkapkan, solusi terbaik juga dengan duduk bersama orang Papua dan orang yang berseberangan. Menurutnya, upaya tersebut bisa menjadi jalan untuk mencari solusi.
"Kami di Papua sangat damai dan cinta orang lain serta hidup berdampingan bersama-sama. Mereka ada dari gunung, pesisir pantai, dan lainnya. Ibaratnya, Papua adalah miniatur mini Indonesia semua suku ada. Jawa, Bali, Maluku, Kalimantan, Sunda, Sulawesi dan lainnya. Kami di Papua sangat mencintai dan hargai tiap orang datang dan berdamai. Kita berharap agar oemerintah memberikan pengajaran tentang kewarganegaraan seperti P4 di tingkat D (sekolah dasar) sampai SMA (sekolah menengah atas) agar kecintaan kepada negara Indonesia terus ditanamkan," jelas Mauri.
Dia menyesalkan banyaknya propaganda dan isu hoaks yang beredar di Papua. Mereka yang masuk atau termakan propaganda biasanya kelompok baru tahu politik, kelompok ikutan berpolitik, belum tahu sejarah Papua masuk NKRI.
Selanjutnya, kelompok yang tidak mau tahu tentang NKRI atau bahkan OPM yang penting "kacau-kacau" saja. Di luar mereka dibilang orang Indonesia bikin susah Papua.
Mauri menambahkan, orang yang belum tahu politik itu punya risiko berbahaya, apalagi kalau bikin isu.
"Apalagi, polisi saat ini mempunyai alat canggih, terus ditangkap bikin cerita disiksa itu tidak benar. Dan kelompok yang tidak puas dengan pemimpin saat ini," tuturnya.
Mauri mengungkapkan, tidak benar kalau ada yang mengatakan genosida di Papua. Pemerintah harus berani mengkonter juga itu orang yang menggoreng berita. Untuk itu, harus bijak menghadapi berita yang ada di media sosial.
"Kita ajak para pemuka agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, pemuka agama menyampaikan informasi yang benar tentang kedamaian dan kebaikan di tanah Papua. Kita berupaya menyadarkan orang, merangkul untuk bisa hidup damai. Kita juga melibatkan tokoh perempuan, mahasiswa, dan para tokoh di Papua dalam upaya menciptakan kedamaian dan pembangunan lebih baik di Papua," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




