ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Gerakan Pencegahan DBD Terkendala Pandemi Covid-19

Jumat, 30 Juli 2021 | 17:31 WIB
NW
B
Penulis: Natasia Christy Wahyuni | Editor: B1
Penderita demam berdarah dengue.
Penderita demam berdarah dengue. (Antara)

Jakarta, Beritasatu.com - Memasuki peralihan musim atau pancaroba, pencegahan kasus dengue atau lebih popular dengan demam berdarah dengue (DBD) menjadi semakin penting di masyarakat. Sayangnya, kondisi pandemi Covid-19 telah menimbulkan kendala dalam upaya pencegahan DBD lewat gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik).

"Dalam masa pandemi Covid-19 ada masalah dalam implementasi gerakan satu rumah satu jumantik, jika jumantik diharuskan memantau dari rumah ke rumah," kata Ketua Komunitas Dengue Indonesia, Prof Sri Rezeki Hadinegoro, dalam webinar Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021-2025 dengan tema "Bersama Lawan Dengue di Masa Pandemi Covid-19", Jumat (30/7/2021).

Sri mengatakan, pemerintah perlu memikirkan pendekatan sosial agar jumantik bisa tetap menjalankan tugas selama pandemi Covid-19. Setiap keluarga perlu diberi pengarahan untuk melakukan pemeriksaan mandiri di bawah pengawasan jumantik.

Misalnya, jumantik dibantu RT lewat telepon atau Whatsapp melakukan pemantauan ke masing-masing rumah di lingkungan warga.

ADVERTISEMENT

"Perlu dipikirkan pelatihan khusus untuk jumantik bagaimana memantau dengan Whatsapp misalnya. Ini harus dikembangkan jadi jumantik tidak usah datang ke rumah warga," kata Sri.

Sri mengatakan, Malaysia telah mengambil langkah pencegahan kasus DBD dengan sangat baik. Masyarakat di Malaysia diajarkan untuk mengerti jenis nyamuk aedes aegypti yang menyebabkan DBD.

"Di Malaysia mereka memakai mosquito trap kemudian bisa menilai satu-satu nyamuk apa yang ditangkap di situ. Jika ada aedes, dia kirim Whatsapp ke Dinas Kesehatan. Ini teknologi yang melibatkan masyarakat dan kita perlu ke arah sana," katanya.

Sri mendorong masyarakat untuk menerapkan 3M dalam pencegahan DBD. Istilah 3M, ujarnya, terlebih dulu dipakai dalam kampanye DBD sebelum saat ini populer untuk pencegahan Covid-19.

3M mengacu kepada menguras atau membersihkan tempat yang menjadi penampungan air (bak mandi, toren air, drum, dan lainnya), menutup rapat tempat penampungan air, dan memanfaatkan kembali limbah barang bekas yang bernilai ekonomis atau daur ulang menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk demam berdarah.

"3M sekarang ‘M’-nya diambil untuk pencegahan Covid-19. Mari kita bersinergi. Setelah pendidikan masyarakat untuk hidup bersih, marilah kita menambahkan pencegahan dengue dalam komunikasi massa kita," ujar Sri.

Sri menambahkan istilah yang dipakai saat ini sebenarnya bukan lagi DBD, melainkan hanya merujuk nama virusnya yaitu dengue karena DBD bagian kecil dari infeksi dengue. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menargetkan angka kematian kasus dengue mencapai 0% di dunia pada 2030.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Kasus DBD Naik Tajam di Jakbar, Cengkareng Paling Parah

Kasus DBD Naik Tajam di Jakbar, Cengkareng Paling Parah

JAKARTA
Kasus DBD di Jaksel Menurun Sepanjang 2025

Kasus DBD di Jaksel Menurun Sepanjang 2025

JAKARTA
10.000 Murid SD di Jaksel Bakal Disuntik Vaksin DBD

10.000 Murid SD di Jaksel Bakal Disuntik Vaksin DBD

JAKARTA
Tekan DBD, 60 Persen Nyamuk di Srengseng Jakbar Mengandung Wolbachia

Tekan DBD, 60 Persen Nyamuk di Srengseng Jakbar Mengandung Wolbachia

JAKARTA
Kasus DBD Tembus 56.000, Anak-anak Paling Rentan Terinfeksi

Kasus DBD Tembus 56.000, Anak-anak Paling Rentan Terinfeksi

NASIONAL
DBD di Pandeglang Capai 192 Kasus, Dinkes Imbau Warga Waspada Hujan

DBD di Pandeglang Capai 192 Kasus, Dinkes Imbau Warga Waspada Hujan

LIFESTYLE

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon