Papua dan Keramahan sang Pangdam Cenderawasih
Direktur Utama B-Universe
Senin, 15 September 2025 | 11:25 WIBPagi 14 September, Garuda mendarat di Sentani. Dari udara, hamparan danau seperti cermin raksasa, gunung berlapis kabut, dan awan yang jatuh rendah menyambut dengan keheningan. Perjalanan 1 jam ke Jayapura membawa kami pada teluk luas yang dahulu bernama Humboldt, kini Yos Sudarso, tempat laut memeluk kota dengan lembut.
Di tepi teluk itulah kami bertemu bersama pangdam. Restoran Swiss-Bel jadi saksi sederhana: di sampingnya langsung teluk, anak-anak Papua berlatih berenang, tertawa memecah riak air biru. Pangdam Amrin datang bukan dengan rombongan besar, melainkan berjalan kaki dari rumah dinasnya, 4.000 langkah yang ia tempuh sendiri. Celana olahraga, sepatu ringan, hanya satu ajudan di sisinya. Tak ada jarak, tak ada protokol kaku. Hanya senyum ramah yang tak pernah putus sepanjang perbincangan pagi itu.

Siang harinya, beliau mengajak ke Rumah Makan Nusantara. Tempat sederhana, tetapi ikan bakarnya harum, sambalnya menggigit, dan kebersamaan menjadikan Minggu itu sempurna. Di meja kayu yang berjejal, keramahan Pangdam tak pernah berubah. Ia berbicara ringan, membaur seolah duduk bersama rakyatnya sendiri.
Senin pagi, sebelum kami kembali ke Jakarta, kami sempatkan berpamitan di Kodam. Kali ini ia berseragam lengkap, sedang menyiapkan kedatangan wakil presiden. Wibawanya tegak, tetapi senyumnya tetap sama. Senyum yang tidak dibuat-buat, senyum yang menghapus jarak antara panglima dan rakyat.

Papua, dengan teluknya yang indah dan gunungnya yang perkasa, seakan menemukan pantulan dalam diri Pangdam Amrin: tegas tetapi teduh, berwibawa tetapi hangat. Ia bicara tentang cahaya dari sungai-sungai Papua, listrik yang kelak menerangi rumah-rumah rakyat. Ia bicara tentang kerja, bukan kata-kata.
Dan dari semua perjumpaan singkat itu, tampak jelas: Papua tidak hanya membutuhkan pemimpin yang berwibawa, tetapi juga sosok yang mau berjalan bersama rakyatnya. Dalam keramahan Amrin, rakyat Papua menemukan cermin persaudaraan, sebuah keyakinan bahwa tanah Cenderawasih akan dijaga dengan hati, setulus senyum yang ia bagi setiap hari. Sambil berucap pelan tetapi tegas: damai itu indah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




