ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

YouTube Longgarkan Aturan Monetisasi Konten Sensitif dan Kontroversial

Minggu, 18 Januari 2026 | 11:59 WIB
H
H
Penulis: Herman | Editor: HE
Ilustrasi YouTube
Ilustrasi YouTube (AP Photo/Patrick Semansky)

Jakarta, Beritasatu.com – YouTube resmi melonggarkan pedoman monetisasi konten ramah pengiklan dengan mengizinkan lebih banyak video bertema sensitif dan kontroversial memperoleh pendapatan iklan penuh. Kebijakan ini berlaku selama konten disajikan secara tidak grafis, baik dalam bentuk drama maupun diskusi informatif.

Dikutip dari TechCrunch, Minggu (18/1/2026), topik kontroversial yang kini dapat dimonetisasi mencakup melukai diri sendiri, aborsi, hingga kekerasan dalam rumah tangga. Meski demikian, YouTube menegaskan, konten terkait pelecehan anak dan gangguan makan tetap tidak memenuhi syarat untuk monetisasi penuh.

Kebijakan baru ini diumumkan YouTube melalui video di kanal Creator Insider pada pekan ini. YouTube menjelaskan, sebelumnya, tingkat detail deskriptif atau visual tidak menjadi faktor utama dalam menentukan kelayakan iklan, termasuk untuk konten yang bersifat dramatis. Akibatnya, banyak video hanya mendapat ikon dolar kuning yang membatasi pendapatan iklan.

ADVERTISEMENT

“Dengan pembaruan minggu ini, pedoman kami menjadi lebih permisif, sehingga kreator bisa memperoleh pendapatan iklan yang lebih besar,” tulis YouTube dalam pernyataannya.

Perusahaan milik Google tersebut menyebut pelonggaran aturan ini merupakan respons atas masukan para kreator. Banyak kreator mengeluhkan bahwa pedoman lama terlalu ketat dan menyebabkan pembatasan pendapatan iklan pada konten bertema sensitif, meskipun disajikan secara edukatif atau dramatis.

YouTube menilai sejumlah topik yang dianggap kontroversial sebenarnya masih dapat diterima oleh pengiklan, terutama apabila disampaikan dalam konteks fiksi, pengalaman pribadi, atau pembahasan singkat tanpa detail grafis. Selama konten menghindari adegan yang terlalu deskriptif atau eksplisit, kreator kini berpeluang mendapatkan monetisasi penuh.

Kebijakan ini juga sejalan dengan langkah YouTube yang dalam beberapa waktu terakhir melonggarkan moderasi konten di platformnya. Tahun lalu, YouTube menginstruksikan moderator untuk tetap membiarkan video yang berpotensi melanggar aturan apabila dinilai memiliki kepentingan publik, seperti diskusi isu politik, sosial, dan budaya.

Namun, YouTube menegaskan sejumlah topik tetap dibatasi secara ketat. Konten yang membahas pelecehan anak, perdagangan seks anak, serta gangguan makan, termasuk versi dramatiknya, masih tidak memenuhi syarat monetisasi iklan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon