ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Insiden Islamofobia pada Laga Uji Coba, Arbeloa: Spanyol Tidak Rasis

Jumat, 3 April 2026 | 19:46 WIB
A
SL
Penulis: Antara | Editor: LES
Pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa.
Pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa. (Beritasatu.com/Real Madrid/Maria Jimenez)

Madrid, Beritasatu.com –  Pelatih Real Madrid Alvaro Arbeloa menegaskan bahwa Spanyol bukan negara rasis, menyusul insiden nyanyian bernuansa Islamofobia dalam laga uji coba antara Spanyol melawan Mesir di Stadion RCDE, Katalunya, pada Rabu (1/4/2026).

Nyanyian “siapa yang tidak melompat adalah Muslim” menjadi sorotan publik dan kini tengah diselidiki oleh kepolisian Katalunya.

Arbeloa menilai insiden tersebut sebagai perilaku individu yang tidak mencerminkan kondisi umum di Spanyol.

“Saya percaya Spanyol bukan negara rasis. Bila memang demikian, kami akan menghadapi masalah setiap akhir pekan. Kami harus memberantas perilaku-perilaku tertentu yang tidak bisa saya ubah,” ujar Arbeloa, dikutip dari Football Espana, Jumat (3/4/2026).

ADVERTISEMENT

Ia menegaskan bahwa Spanyol tetap merupakan negara yang toleran, namun upaya melawan diskriminasi harus terus dilakukan.

“Spanyol harus terus berjuang menghapus sikap seperti ini, tetapi kami adalah negara yang hebat dan sangat toleran. Kita tidak boleh menggeneralisasi, tetapi harus terus melawan dengan kekuatan yang sama,” tambahnya.

Insiden tersebut turut berdampak pada pemain muda Lamine Yamal yang beragama Islam. Usai pertandingan, Yamal terlihat meninggalkan lapangan sendirian saat rekan-rekannya menyapa suporter.

Sehari setelah kejadian, Yamal mengeluarkan pernyataan yang mengecam keras insiden tersebut.

Ia menyebut nyanyian itu sebagai tindakan “tidak dapat ditoleransi” dan “rasis”.

Kasus ini memicu perhatian luas sepanjang pekan. Arbeloa juga sebelumnya meminta UEFA untuk mengambil tindakan tegas terhadap pemain Benfica Gianluca Prestianni atas dugaan pelecehan rasial terhadap Vinicius Junior.

Meski demikian, Arbeloa menilai kedua kasus memiliki konteks berbeda, namun tetap menekankan pentingnya pemberantasan segala bentuk diskriminasi di dunia sepak bola.

FIFA juga dilaporkan mencermati rangkaian insiden di stadion-stadion Spanyol. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa badan sepak bola dunia tersebut dapat mempertimbangkan perubahan lokasi final Piala Dunia 2030.

Sebagaimana diketahui, Piala Dunia 2030 akan digelar di Spanyol, Portugal, dan Maroko, dengan laga final direncanakan berlangsung di Spanyol.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon