ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sejumlah Faktor yang Bisa Menggagalkan Arsenal Juara Liga Inggris

Sabtu, 25 April 2026 | 13:00 WIB
MN
MF
Penulis: Muhamad Refan Nibrasy | Editor: MF
Arsenal masih memiliki peluang untuk tetap juara Liga Inggris.
Arsenal masih memiliki peluang untuk tetap juara Liga Inggris. (AP/Dave Thompson)

Jakarta, Beritasatu.com - Arsenal harus berada pada titik krusial dalam perburuan gelar Liga Inggris musim 2025-2026, tetapi rangkaian hasil terbaru justru memperlihatkan tanda-tanda kemunduran yang sulit diabaikan.

Kekalahan 1-2 dari Manchester City di Etihad Stadium bukan sekadar hasil negatif biasa, melainkan momentum yang menggeser arah perebutan gelar secara signifikan.

Dengan kondisi terkini di mana Arsenal dan Manchester City sama-sama telah memainkan 33 pertandingan dan mengoleksi 70 poin. Namun, Manchester City kini menempati puncak klasemen berkat keunggulan selisih gol.

ADVERTISEMENT

Situasi ini terasa kontras jika dibandingkan dengan kondisi kurang dari satu bulan sebelumnya, ketika Arsenal unggul hingga 10 poin dan tampak berada pada jalur yang jelas menuju gelar pertama sejak 2004.

Namun, penurunan performa dalam beberapa pekan terakhir membuka kembali luka lama yang kerap muncul pada momen krusial. Berikut sejumlah alasan utama yang menjelaskan mengapa Arsenal berpotensi gagal dalam perebutan gelar musim ini:

Dominasi Manchester City Jadikan Momentum Berbalik

Tekanan terbesar yang kini dihadapi Arsenal tidak bisa dilepaskan dari kebangkitan Manchester City. Meski sempat tampil inkonsisten dengan lima kekalahan musim ini, tim asuhan Pep Guardiola menunjukkan transformasi signifikan sejak Maret.

Mereka tidak terkalahkan di kompetisi domestik sejak Januari dan mencatatkan empat kemenangan beruntun atas lawan-lawan besar, termasuk dua kali mengalahkan Arsenal.

Kemenangan atas Arsenal di Etihad menjadi bukti nyata bagaimana City mampu tampil lebih efektif dalam laga besar. Gol penentu dari Erling Haaland pada menit ke-65 memperlihatkan perbedaan kualitas dalam penyelesaian akhir, sesuatu yang justru menjadi kelemahan Arsenal.

Selain itu, kontribusi pemain seperti Rayan Cherki dan stabilitas lini tengah yang dipimpin Bernardo Silva semakin memperkuat dominasi City.

Momentum yang kini berpihak kepada City semakin terlihat setelah mereka mengalahkan Burnley 1-0 di Turf Moor, kemenangan yang membawa mereka ke puncak klasemen untuk pertama kalinya dalam delapan bulan.

Perubahan ini menegaskan bahwa tekanan kini sepenuhnya berada di pihak Arsenal, sementara City tampil semakin percaya diri di fase akhir musim.

Beban Ekspektasi dan Trauma Sejarah

Tekanan yang dirasakan Arsenal tidak hanya berasal dari pesaing langsung, tetapi juga dari ekspektasi besar yang telah dibangun sepanjang musim.

Dengan pengeluaran lebih dari £1 miliar sejak kedatangan Arteta, tuntutan untuk meraih trofi menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar.

Bahkan, sebelum penurunan performa, banyak pihak menilai skuad Arsenal sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah klub.

Namun, ekspektasi tinggi tersebut justru berubah menjadi beban ketika hasil mulai menurun.

Arsenal yang sebelumnya hanya kalah tiga kali dalam 49 pertandingan kini mencatat empat kekalahan dalam enam laga terakhir. Kekalahan di final Carabao Cup dari Manchester City dengan skor 0-2 menjadi titik balik yang memicu penurunan performa secara keseluruhan.

Lebih jauh lagi, sejarah kegagalan dalam perebutan gelar juga turut membayangi. Arsenal pernah memimpin klasemen selama ratusan hari dalam beberapa musim terakhir, tetapi gagal mempertahankan keunggulan di fase akhir.

Kondisi serupa kembali terjadi musim ini, ketika keunggulan sembilan poin menguap hanya dalam waktu 11 hari.

Minimnya Rotasi Pemain Jadi Penyebab Masalah Kebugaran

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kondisi fisik pemain yang mulai menurun.

Cedera yang dialami pemain kunci seperti Bukayo Saka, Jurrien Timber, dan Mikel Merino mengurangi kedalaman skuad di momen krusial. Ketidakhadiran Saka, yang merupakan salah satu sumber kreativitas utama, berdampak signifikan terhadap efektivitas serangan.

Pada lini tengah, Declan Rice dan Martin Zubimendi terlihat mengalami kelelahan setelah tampil secara konsisten sepanjang musim.

Minimnya rotasi yang dilakukan Arteta membuat intensitas permainan menurun, terutama dalam pertandingan besar. Hal ini terlihat jelas saat menghadapi City, di mana lini tengah Arsenal gagal mengontrol permainan.

Kondisi kelelahan ini semakin diperparah oleh jadwal padat, termasuk keterlibatan di Liga Champions.

Meski Arteta menyebut jadwal sebagai faktor utama, kritik tetap muncul terkait kurangnya rotasi yang berujung pada risiko cedera dan penurunan performa di fase akhir musim.

Ketajaman Serangan yang Tidak Konsisten

Salah satu masalah paling mencolok dalam skuad Arsenal adalah kurangnya penyerang yang benar-benar tajam di momen penting.

Meskipun memiliki sejumlah opsi seperti Kai Havertz, Viktor Gyokeres, Gabriel Martinelli, dan Gabriel Jesus, tidak ada yang mampu tampil konsisten sebagai penentu kemenangan.

Dalam laga melawan Manchester City, Arsenal sebenarnya menciptakan beberapa peluang emas.

Havertz mencetak gol penyama, tetapi juga gagal memanfaatkan dua peluang krusial, termasuk peluang satu lawan satu dan sundulan di menit akhir.

Selain itu, peluang dari Eberechi Eze dan Gabriel yang membentur tiang semakin menegaskan kurangnya efektivitas di depan gawang.

Secara statistik, Arsenal hanya mencatat 35,8 expected goals dari open play musim ini, menempatkan mereka di posisi keenam di liga.

Angka ini tertinggal dari Manchester City (42,1) dan Chelsea (43,2), menunjukkan bahwa kreativitas dan produktivitas serangan masih menjadi persoalan utama.

Ketergantungan pada situasi bola mati juga menjadi sorotan. Meskipun efektif dalam beberapa pertandingan, pendekatan ini membuat Arsenal kurang variatif dalam membangun serangan sehingga mudah diantisipasi lawan dalam pertandingan besar.

Mentalitas pada Momen Krusial

Aspek mental menjadi faktor lain yang berkontribusi terhadap inkonsistensi Arsenal.

Dalam pertandingan melawan City, beberapa pemain kunci gagal menunjukkan performa terbaiknya.

Declan Rice, misalnya, kehilangan lebih dari setengah duel dan kehilangan bola sebanyak 13 kali, sementara Martin Odegaard meski kreatif tetap gagal memberikan dampak penentu.

Pada sisi lain, Gabriel Magalhaes kesulitan menghadapi tekanan dari Erling Haaland, yang menunjukkan superioritas fisik dan ketajaman dalam duel langsung.

Situasi ini memperlihatkan kurangnya figur pemimpin yang mampu mengangkat performa tim di saat genting.

Dari sisi manajerial, Arteta juga terlihat berada di bawah tekanan. Gestur emosional di pinggir lapangan mencerminkan ketegangan yang turut dirasakan oleh pemain.

Berbeda dengan Guardiola yang telah berpengalaman memenangkan berbagai gelar, Arteta masih belum membuktikan kemampuannya membawa tim melewati tekanan di fase akhir kompetisi.

Melihat berbagai faktor yang ada, mulai dari momentum Manchester City, tekanan sejarah, kelelahan pemain, hingga kurangnya ketajaman di lini depan, peluang Arsenal untuk kehilangan gelar Liga Inggris menjadi semakin nyata.

Meski secara matematis peluang masih terbuka, tren performa menunjukkan arah yang mengkhawatirkan.

Jika tidak mampu segera bangkit dan mengatasi kelemahan yang ada, Arsenal berpotensi mengulangi kegagalan di musim-musim sebelumnya.

Lima pertandingan tersisa akan menjadi penentu apakah Arsenal mampu mematahkan narasi tersebut atau justru kembali mengalami hasil yang sama.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Era Iraola Dimulai, Liverpool Tikung Newcastle Tebus Victor Munoz

Era Iraola Dimulai, Liverpool Tikung Newcastle Tebus Victor Munoz

SPORT
Dipertahankan Ipswich Town, Baggott Jadi Tampil pada Premier League?

Dipertahankan Ipswich Town, Baggott Jadi Tampil pada Premier League?

SPORT
Lahir di Pengungsian, Irankunda Kini Cetak Sejarah pada Piala Dunia

Lahir di Pengungsian, Irankunda Kini Cetak Sejarah pada Piala Dunia

SPORT
Mourinho Bergerak, Real Madrid Makin Dekat Dapat Bernardo Silva

Mourinho Bergerak, Real Madrid Makin Dekat Dapat Bernardo Silva

SPORT
Sancho Tinggalkan Man United, Bissouma Berpisah dengan Tottenham

Sancho Tinggalkan Man United, Bissouma Berpisah dengan Tottenham

SPORT
Man United Cuci Gudang! Sancho, Casemiro, dan Malacia Resmi Pergi

Man United Cuci Gudang! Sancho, Casemiro, dan Malacia Resmi Pergi

SPORT

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon