Skema Belajar di Sekolah yang Terdampak Bencana Sumatera
Sabtu, 3 Januari 2026 | 15:02 WIB
Kudus, Beritasatu.com - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti memastikan kegiatan belajar mengajar bagi siswa terdampak bencana alam di wilayah Sumatera tetap berjalan.
Pemerintah telah menyiapkan kurikulum darurat yang adaptif agar hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi di tengah masa pemulihan.
Menurut Abdul Mu’ti, kurikulum darurat dirancang dengan sejumlah skenario waktu yang fleksibel, mulai dari tiga bulan hingga tiga tahun, bergantung pada tingkat kerusakan sekolah dan kesiapan masing-masing satuan pendidikan.
“Untuk kurikulum di daerah yang terdampak, kami menyiapkan skenario pembelajaran dengan kurikulum darurat. Ada yang tiga bulan, satu tahun, hingga satu sampai tiga tahun. Semuanya dibuat lebih fleksibel dan adaptif,” ujar Menteri Abdul Mu’ti wartawan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (2/1/2026).
Pendekatan ini bertujuan agar proses belajar tetap berlangsung meski infrastruktur sekolah belum sepenuhnya pulih.
Selama masa transisi, siswa dari sekolah yang belum siap akan diarahkan untuk mengikuti pembelajaran di berbagai fasilitas publik, seperti kantor desa, puskesmas, tempat ibadah, hingga tenda-tenda darurat.
“Kami sudah membangun 54 tenda sementara untuk kegiatan pembelajaran. Yang terpenting adalah anak-anak bisa belajar terlebih dahulu,” jelasnya.
Hingga saat ini, tercatat lebih dari 4.000 satuan pendidikan di wilayah Sumatera terdampak bencana.
Meski demikian, Mendikdasmen menyebutkan, tingkat kesiapan sekolah untuk kembali menggelar pembelajaran pada Senin, 5 Januari 2026, telah mencapai 85 persen.
“Untuk Provinsi Sumatera Utara dan Sumatera Barat, sekolah sudah siap 100 persen. Sementara di Aceh, masih perlu pembersihan intensif, terutama sekolah yang terdampak lumpur tebal,” ungkapnya.
Bagi sekolah yang mengalami kerusakan total dan tidak memungkinkan untuk digunakan kembali, pemerintah telah menyiapkan rencana pembangunan ulang.
Sebagian sekolah akan dibangun di lokasi semula, sementara lainnya akan direlokasi ke tempat yang lebih aman demi keselamatan jangka panjang.
Sebagai bentuk empati dan dukungan moral atas arahan Presiden Prabowo Subianto, Mendikdasmen memberikan dispensasi khusus bagi siswa di daerah terdampak bencana.
Anak-anak tetap diperbolehkan mengikuti pembelajaran meskipun tidak memiliki perlengkapan sekolah yang lengkap.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk memastikan bahwa dalam kondisi darurat sekali pun, akses dan kualitas pendidikan tidak boleh terhenti. Pemerintah menegaskan, pendidikan tetap menjadi prioritas utama demi masa depan generasi bangsa.
“Anak-anak bisa tetap belajar walaupun tidak memakai seragam atau sepatu. Kami memahami kondisi mereka yang masih dalam proses pemulihan,” tegasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




