ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Tenun Baduy, Simbol Ketaatan Perempuan Baduy pada Adat Leluhur

Senin, 16 Juni 2025 | 12:13 WIB
B
BW
Penulis: Budiman | Editor: BW
Seorang perempuan Baduy menenun di Baduy Luar, Senin 16 Juni 2025.
Seorang perempuan Baduy menenun di Baduy Luar, Senin 16 Juni 2025. (Beritasatu.com/Budiman)

Lebak, Beritasatu.com — Suku Baduy, kelompok etnis masyarakat adat Sunda di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, dikenal tak hanya dengan hasil bumi seperti gula aren, madu, dan durian, tetapi juga karena keteguhan mereka menjaga adat budaya warisan leluhur. Salah satu simbol penting dari warisan budaya tersebut adalah kain tenun Baduy.

Kain tenun ini menjadi ciri khas tradisional masyarakat Baduy, baik Baduy Luar maupun Baduy Dalam. Aktivitas menenun merupakan bentuk ketaatan perempuan Baduy dalam memelihara nilai-nilai adat dan tradisi yang mereka hormati.

Pantauan Beritasatu.com di salah satu kampung adat Baduy yang terletak di kawasan Gunung Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Lebak, menunjukkan bagaimana aktivitas menenun menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di hampir setiap rumah, terlihat perempuan Baduy tengah menenun di atas bale-bale dengan peralatan tradisional.

ADVERTISEMENT

Salah satu perempuan Baduy Luar, Ambu Sani, mengungkapkan, kemampuan menenun telah dia pelajari sejak usia 10 tahun. Bahkan, tak sedikit perempuan Baduy lainnya yang mulai belajar sejak berusia 7 tahun.

"Keahlian ini sudah dipelajari dari kecil, umur 10 tahun. Namun, ada juga yang dari umur 7 tahun sudah bisa menenun," kata Ambu Sani saat ditemui di rumahnya, Senin (16/6/2025).

Proses menenun, menurutnya, bisa memakan waktu 2 minggu hingga 1 bulan tergantung ukuran dan tingkat kesulitan motif yang dibuat.

"Waktunya bisa dua minggu, ada juga yang sampai satu bulan, tergantung besar kecilnya dan tingkat kesulitannya," ujarnya.

Tenun Baduy memiliki berbagai motif khas, antara lain motif suat songket, adu mancung, poleng kacang, janggarwari, dan beberapa lainnya yang terinspirasi dari alam sekitar.

"Motifnya macam-macam. Ada yang suat, songket, mancung, janggarwari, poleng kacang, dan poleng untuk sarung," jelasnya.

Harga kain tenun Baduy bervariasi, mulai dari Rp 35.000 hingga Rp 1 juta. Harga ditentukan oleh ukuran, motif, dan tingkat kerumitan proses pembuatannya. Kain bermotif janggarwari menjadi salah satu yang paling mahal karena proses pembuatannya yang memakan waktu lama.

"Untuk sarung sekitar Rp 200.000, yang ada gawangnya bisa Rp 300.000, ada juga yang Rp 35.000. Tergantung motif dan ukurannya," katanya.

"Kalau yang paling mahal itu Janggarwari, bisa sampai Rp 1 juta, karena proses pembuatannya paling lama," pungkasnya.

Motif dan warna dalam kain tenun Baduy umumnya terinspirasi dari alam, mencerminkan keterikatan masyarakat Baduy dengan lingkungan dan warisan budaya leluhur mereka. Tenun bukan sekadar kain, tetapi juga menjadi identitas budaya yang terus dijaga oleh para perempuan Baduy hingga kini.
 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Geliat Perempuan Baduy Merawat Tenun Warisan Leluhur

Geliat Perempuan Baduy Merawat Tenun Warisan Leluhur

BANTEN

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT