Banjir 7 Hari Landa Kresek Tangerang, Warga Mulai Terserang Penyakit
Senin, 19 Januari 2026 | 22:57 WIB
Tangerang, Beritasatu.com — Genangan banjir yang bertahan selama tujuh hari di Desa Pasir Ampo, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Banten, mulai berdampak pada kesehatan warga. Hingga Senin (19/1/2026) malam, air yang menggenangi permukiman sejak Selasa (13/1/2026) belum juga surut.
Pemantauan di lokasi menunjukkan luapan Sungai Cidurian masih terus mengalir deras masuk ke kawasan permukiman melalui tanggul yang jebol. Akibatnya, ruas jalan utama desa terputus total dan tidak bisa dilalui kendaraan bermotor.
Sejumlah warga yang hendak kembali ke rumah setelah beraktivitas terpaksa menggunakan perahu karet. Selain menghambat mobilitas, banjir juga masih merendam ratusan rumah dengan ketinggian air berkisar antara 30 sentimeter hingga 1 meter.
Sebagian warga memilih mengungsi ke musala, gubuk kecil di pinggir jalan, atau berteduh di dalam mobil. Namun, tidak sedikit yang tetap bertahan di rumah karena khawatir meninggalkan barang berharga mereka. Ketua RW 01 Desa Pasir Ampo, Rozak, menyebut tinggi air kembali naik dalam beberapa jam terakhir.
“Air naik lagi sekitar 5 sampai 10 sentimeter. Total rumah yang terdampak sekitar 200 unit,” ujar Rozak.
Di tengah kondisi tersebut, keluhan gangguan kesehatan mulai bermunculan. Rozak mencatat puluhan warga mengalami penyakit kulit akibat terpapar air kotor dalam waktu lama. “Di dua RT yang terdampak, sekitar 40 warga mengalami gatal-gatal,” katanya.
Masalah kesehatan tidak hanya terbatas pada penyakit kulit. Hamzah (72), salah satu warga, terpaksa mengungsikan keluarganya ke dalam mobil Suzuki APV miliknya. Di dalam kabin, istrinya terlihat terbaring lemas bersama anak dan cucunya. “Istri saya sedang sakit, batuk, dan punya riwayat darah tinggi,” ujar Hamzah.
Cucunya yang masih berusia 1 tahun juga mengalami flu dan batuk. Menurut Hamzah, bantuan medis yang diterima warga sejauh ini masih sangat terbatas. “Saat tim medis datang, tidak ada obat untuk anak-anak, hanya ada obat gatal saja,” keluhnya.
Terputusnya akses jalan makin menyulitkan warga untuk mendapatkan perawatan. Hamzah harus menggunakan perahu karet untuk membawa cucunya berobat ke puskesmas.
“Saya sempat bawa ke puskesmas, tetapi kondisinya tidak membaik. Akhirnya saya bawa ke dokter spesialis pakai perahu karena cucu sudah sesak napas,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah segera mengirimkan bantuan medis tambahan, terutama obat-obatan untuk anak-anak dan lansia, karena kebutuhan kesehatan kini menjadi prioritas selain bantuan logistik.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




