ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Wisata Baduy Dibuka Saat Lebaran 2026, tetapi Hanya Wilayah Ini

Rabu, 11 Maret 2026 | 03:09 WIB
B
AD
Penulis: Budiman | Editor: AD
Objek wisata budaya dan alam Baduy di kawasan Gunung Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, tetap dapat dikunjungi wisatawan selama libur Lebaran 2026, meskipun masyarakat adat sedang menjalani masa Kawalu.
Objek wisata budaya dan alam Baduy di kawasan Gunung Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, tetap dapat dikunjungi wisatawan selama libur Lebaran 2026, meskipun masyarakat adat sedang menjalani masa Kawalu. (Beritasatu.com/Budiman)

Lebak, Beritasatu.com - Objek wisata budaya dan alam Baduy di kawasan Gunung Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, tetap dibuka untuk wisatawan selama libur Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026. Namun, kunjungan wisata hanya diperbolehkan di wilayah Baduy Luar.

Kepala Desa Kanekes Jaro Oom mengatakan pembatasan tersebut diberlakukan karena masyarakat adat Baduy saat ini sedang menjalankan ritual Kawalu, yang merupakan tradisi keagamaan tahunan.

“Masih bisa dikunjungi, tetapi hanya di wilayah Baduy Luar. Untuk Baduy Dalam tetap tidak diperbolehkan,” kata Jaro Oom kepada Beritasatu.com saat dikonfirmasi, Selasa (10/3/2026).

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan, larangan memasuki wilayah Baduy Dalam merupakan bagian dari aturan adat yang harus dihormati oleh setiap pengunjung, terutama saat masyarakat adat menjalani ritual Kawalu.

Menurut Jaro Oom, wisatawan masih dapat mengunjungi puluhan kampung di wilayah Baduy Luar. Namun, umumnya pengunjung hanya sampai di area tertentu seperti Jembatan Gajebo sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung-kampung Baduy Luar lainnya.

“Wilayah Baduy Luar ada sekitar 65 kampung yang bisa dikunjungi. Sedangkan tiga kampung lainnya merupakan Baduy Dalam yang tidak boleh dimasuki,” ujarnya.

Ia juga mengimbau para wisatawan yang datang saat libur Lebaran agar tetap menjaga etika serta menghormati aturan adat yang berlaku di wilayah masyarakat Baduy.

Jaro Oom menegaskan kawasan Baduy bukan sekadar destinasi wisata, melainkan wilayah masyarakat adat yang memiliki aturan budaya dan tata krama yang harus dipatuhi oleh setiap pengunjung.

“Pengunjung harus menjaga etika dan menyesuaikan diri dengan aturan adat yang berlaku. Ini bukan hanya wisata, tetapi wilayah budaya yang harus dihormati,” jelasnya.

Selain itu, wisatawan juga disarankan untuk bertanya kepada aparat desa atau pemandu lokal apabila belum memahami pantangan dan aturan yang berlaku di wilayah Baduy.

Menurutnya, keberadaan pemandu lokal dapat membantu wisatawan memahami tradisi dan aturan adat masyarakat Baduy sehingga kunjungan tetap berjalan tertib serta menghormati budaya setempat.

“Bagi para pengunjung yang masih bingung, bisa menanyakannya langsung kepada saya, Jaro Oom,” pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon