Jokowi vs Prabowo Bakal Terulang di Pemilu 2019
Senin, 19 Februari 2018 | 16:25 WIB
Jakarta - Peneliti dari lembaga survei Poltracking Indonesia Agung Baskoro menilai Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto masih menjadi bakal calon presiden (capres) pada pemilu 2019 karena pascapilres 2014 keduanya konsisten membangun basis politik dan massa. Untuk Prabowo, basis politiknya berupa Koalisi Merah Putih (KMP) yang sekarang menjelma menjadi KMP minus Golkar dan PPP.
"Dalam konteks lain, lovers dan haters masing-masing pendukung presiden intens berseteru, baik di media maupun pada ranah publik dalam berbagai kesempatan terkait penyelenggaraan negara. Sehingga semakin mengkristalisasi dukungan terhadap keduanya," kata Agung di Jakarta, Senin (19/2).
Ia menjelaskan yang paling penting bagi Jokowi adalah bagaimana menaikkan terus kinerja kabinet kerja agar rakyat semakin dipercaya. Kemudian merawat basis pemilih Islam agar tak ada lagi citra negatif yang menganggap Presiden bertentangan dengan umat Islam.
Sementara untuk Prabowo, tantangan terbesar bagi dirinya bagaimana menghadirkan hal-hal baru tentang dirinya. Jangan sampai publik jenuh dan menangkap 'pesan sama' bahwa maju kembalinya Prabowo dalam pertarungan hanya sebatas beda. Hal baru ini bisa mulai soal visi, misi, program, dan inovasi kebijakan yang ingin dilakukan ketika diberi kesempatan memimpin.
Sementara itu pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago mengemukakan Jokowi masih ungggul dan peluangnya masih cukup dominan untuk terpilih kembali. Alasannya, incumbent jarang sekali kalah.
"Jokowi faktor incumbent dan kinerjanya cukup bagus. Namun tetap Jokowi jangan sampai salah mengandeng wakilnya. Harus mahir dan piawai membuat simulasi dan menghitung ulang dengan kalkulasi angka-angka yang pas," kata Pangi.
Dia menegaskan Prabowo Subianto sulit berpasangan dengan Jokowi. Jika keduanya berpasangan, suara Gerindra anjlok sebab pemilih Gerindra itu tidak memilih Jokowi.
"Pemilih Prabowo belum tentu linear memilih pasangan Jokowi-Prabowo. Karena pemilih Prabowo anti tesis dari Jokowi. Walaupun ada nama Prabowo, ada kemungkinan pemilih Prabowo dan Gerindra bergeser ke calon alternatif," tuturnya.
Menurutnya, jika Prabowo tidak jadi maju sebagai Capres maka Prabowo akan pasang Anies Baswedan melawan Jokowi. Prabowo belajar dari pengalaman Megawati jadi king maker. Soal wakil Anies nanti sangat dinamis, bisa saja dari parpol atau militer
"Prabowo sudah lewat momentum politiknya. Kansnya makin tipis. Terbukti elektabilitas Prabowo belakangan justru tren menurun, tidak nampak terjadi pertumbuhan elektoral," tutupnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




