Dolar AS Terus Menguat berkat Hawkish Federal Reserve
Sabtu, 23 September 2023 | 06:37 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (22/9/2023) atau Sabtu (23/9/2023) pagi seiring dengan sikap hawkish para pejabat Federal Reserve.
Indeks dolar yang mengukur nilai greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, mengalami kenaikan sebesar 0,21%, mencapai angka 105,5876 pada penutupan perdagangan.
Gubernur Federal Reserve, Michelle Bowman, dalam pernyataannya pada Jumat (22/9/2023), terus memperkirakan bahwa kenaikan suku bunga mungkin akan diperlukan untuk mengendalikan inflasi dan menjaga agar tetap berada pada level 2,0% pada waktu yang tepat.
Dia mencatat bahwa para pejabat Federal Reserve memproyeksikan bahwa inflasi akan terus berada di atas 2,0% hingga setidaknya akhir tahun 2025, sesuai dengan proyeksi ekonomi triwulanan yang baru saja dirilis oleh para pembuat kebijakan.
Presiden Federal Reserve Bank of Boston, Susan Collins, juga menegaskan dukungannya untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi, mengingat tantangan yang terus muncul dalam menangani inflasi yang terlalu tinggi.
"Saya memperkirakan suku bunga mungkin harus tetap tinggi, dan lebih lama, dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya, dan pengetatan lebih lanjut tentu saja tidak mungkin dilakukan," uajrnya.
Pada hari yang sama, indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur S&P Global menunjukkan peningkatan menjadi 48,9 pada awal September, dibandingkan dengan angka 47,9 pada Agustus, menunjukkan adanya kontraksi dalam aktivitas bisnis sektor manufaktur, meskipun lajunya melambat.
Sementara itu, PMI untuk sektor jasa turun tipis menjadi 50,2 dari 50,5 pada periode yang sama, dan PMI gabungan mencapai 50,1, mengalami penurunan ringan dari 50,2 pada bulan Agustus.
Di Asia, Bank Sentral Jepang (BoJ) tetap mempertahankan suku bunga yang sangat rendah, sesuai dengan perkiraan yang telah ada. Gubernur BoJ, Kazuo Ueda, menyampaikan bahwa inflasi belum stabil dan berkelanjutan, sehingga kebijakan moneter yang sangat longgar harus dipertahankan dengan sabar. Namun, ia juga mengakui bahwa kebijakan tersebut dapat berubah jika target inflasi tercapai. Untuk saat ini, prospek ekonomi dan harga masih sangat tinggi.
Pada penutupan perdagangan di New York, dolar AS diperdagangkan dengan nilai 148,3790 yen Jepang, mengalami kenaikan dari 147,5180 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Euro turun menjadi 1,0648 dolar AS dari 1,0662 dolar AS pada sesi sebelumnya, sementara pound Inggris juga mengalami penurunan menjadi 1,2242 dolar AS dari 1,2291 dolar AS.
Selain itu, dolar AS menguat menjadi 0,9067 franc Swiss dari 0,9040 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3471 dolar Kanada dari 1,3469 dolar Kanada. Dolar AS juga melemah menjadi 11,1118 krona Swedia dari 11,1616 krona Swedia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




