Emiten BATR Akan Bangun Pabrik Baru dengan Nilai Investasi Rp 100 Miliar
Senin, 10 Juni 2024 | 13:40 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) kedatangan satu lagi perusahaan yang melakukan penawaran perdana sahamnya, yakni PT Benteng Api Technic Tbk yang menggunakan kode saham BATR. Sebagai emiten ke-25 yang melakukan listing di BEI sepanjang 2024, BATR bergerak di bidang manufaktur dan perdagangan produk refraktori atau material tahan api dan insulasi tahan panas serta jasa konstruksi.
Pada penawaran umum, BATR melepas 620 juta saham baru dengan harga Rp 110 per saham, sehingga diharapkan perusahaan asal Surabaya ini dapat memperoleh dana segar sebesar Rp 68,2 miliar.
Seusai prosesi IPO di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (10/6/2024), Direktur Utama BATR Ridwan mengatakan dana IPO yang diperoleh akan digunakan untuk melakukan ekspansi dalam jangka pendek dan jangka panjang.
Dalam jangka pendek, perusahaan ingin menggunakan dana IPO untuk meningkatkan kapasitas produksi dan penjualan sehingga bisa memperbaiki kinerja perusahan lebih baik lagi. Untuk jangka panjang perusahaan akan bangun pabrik baru.
"Kita berencana untuk membangun pabrik baru untuk memproduksi fire brick dan monolithic refactory yang mempunyai spesifikasi khusus, terutama nanti akan digunakan di industri semen, smelter nikel, smelter tembaga, dan lainnnya," ucap Ridwan.
Lebih lanjut, Ridwan menjelaskan pabrik yang akan dibangunnya berada di Gresik, Jawa Timur. Pabrik tersebut akan mulai dibangun dan diperkirakan akan mulai beroperasi pada 2026. Adapun total investasi dari pabrik baru seluas 1,66 hektare tersebut mencapai Rp 100 miliar.
Kini BATR menguasai sekitar 15% market share di seluruh Indonesia, dengan produk-produknya yang tersebar di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera.
"Jawa, Kalimantan, Sumatera. Market share di Indonesia skeitar 10-15%. IKN kita enggak terlibat langsung, tetapi melalui perusahaan-perusahaan, seperti pabrik baja, itu kan customer kami," ucapnya.
Lebih lanjut, Ridwan mengatakan pihaknya masih akan berfokus untuk menaklukan pasar Indonesia mengingat bahan konstruksi yang dipakai di Indonesia, mengingat sebanyak 74% dari material konstruksi yang dipakai di Indonesia masih diimpor.
"Kita masih fokus di Indonesia, karena potensi market itu 74% masih dikuasai produk impor. Kami ingin ambil pangsa yang masih tinggi di Indonesia. Walaupun sekarang kita juga sudah ekspor ke Vietnam dan Timur Tengah, tetapi kita lebih fokus dahulu ke Indonesia," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




