ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Rupiah dan Inflasi Terjaga, LPEM UI: BI Belum Perlu Naikkan Suku Bunga

Selasa, 16 Juli 2024 | 12:56 WIB
AK
AD
Penulis: Arnoldus Kristianus | Editor: AD
Ilustrasi Bank Indonesia.
Ilustrasi Bank Indonesia. (Antara/Dokumentasi BI)

Jakarta, Beritasatu.com - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) memperkirakan Bank Indonesia (BI) masih akan mempertahankan suku bunga acuan di angka 6,25% pada rapat Dewan Gubernur Juli ini.

Ekonom makroekonomi dan pasar keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan BI perlu tetap waspada dalam merumuskan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan tingkat harga domestik. Menurut dia, saat ini inflasi cenderung bukanlah isu mendesak dan perbedaan tingkat suku bunga masih cenderung atraktif untuk menarik modal masuk dan menjaga stabilitas rupiah.

“Menilai kondisi ini, kami berpandangan BI perlu menahan suku bunga acuannya di 6,25% untuk bulan ini,” ucap Riefky dalam Laporan Seri Analisis Makroekonomi Rapat Dewan Gubernur BI Juli 2024 yang diterima pada Selasa (16/7/2024).

ADVERTISEMENT

Dari sisi perekonomian dalam negeri, inflasi saat ini berada di level 2,51% year on year (yoy) pada Juni 2024. Angka ini melambat dari angka Mei 2024 sebesar 2,84% (yoy). Inflasi umum melambat karena harga pangan turun setelah musim panen dan rendahnya permintaan setelah perayaan Idul Fitri yang berakhir pada bulan April 2024.

Selain itu, cadangan devisa Indonesia meningkat sekitar US$ 1,2 miliar, dari US$ 138,97 miliar pada Mei menjadi US$ 140,18 miliar pada Juni 2024. Dengan kondisi ini, BI perlu mempertahankan suku bunga kebijakannya di level 6,25% bulan ini.

Dari sisi eksternal, saat ini The Fed mengambil sikap yang lebih dovish karena arus modal telah masuk ke pasar negara berkembang dan nilai tukar rupiah telah terapresiasi secara signifikan selama beberapa minggu terakhir. Saat ini rupiah  berada di kisaran Rp 16.110 per dolar AS, menandai kenaikan 2,23% selama sebulan terakhir.  

Seiring dengan kondisi The Fed saat ini yang cenderung menunjukkan sinyal dovish pascarilis data inflasi di 11 Juli lalu, arus modal mulai beralih ke pasar berkembang sejak saat ini. Total arus modal portofolio ke pasar keuangan Indonesia meningkat hingga US$ 1,06 miliar dalam tiga minggu terakhir, dan terjadi akumulasi arus modal tertinggi sejak pertengahan April.

“Dari US$ 1,06 miliar tersebut, US$ 0,74 miliar masuk ke pasar saham dan US$ 0,32 miliar sisanya masuk ke instrumen obligasi. Namun, arus modal ke instrumen obligasi lebih didominasi ke surat utang,” kata dia. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Alasan BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen

Alasan BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen

EKONOMI
BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen pada Februari 2026

BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen pada Februari 2026

EKONOMI
Menanti BI Rate Februari 2026 sebagai Penentu Arah Pasar

Menanti BI Rate Februari 2026 sebagai Penentu Arah Pasar

EKONOMI
Bursa Asia Pasifik Menguat, Nikkei Naik Berkat BOJ Tahan Suku Bunga

Bursa Asia Pasifik Menguat, Nikkei Naik Berkat BOJ Tahan Suku Bunga

EKONOMI
BI Rate 5 Kali Turun pada 2025, Bagaimana 2026?

BI Rate 5 Kali Turun pada 2025, Bagaimana 2026?

EKONOMI
BI Tahan BI Rate 4,75 Persen pada Desember 2025, Fokus Jaga Rupiah

BI Tahan BI Rate 4,75 Persen pada Desember 2025, Fokus Jaga Rupiah

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon