Prabowo Tolak Ekonomi Trickle-Down, Prioritaskan Kesejahteraan untuk Semua Kelas
Kamis, 10 Oktober 2024 | 15:51 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Presiden terpilih Prabowo Subianto mengungkapkan pemerintahannya tidak akan mengadopsi pendekatan ekonomi trickle-down, dengan menyatakan seluruh rakyat Indonesia, tanpa memandang kelas sosial, harus menikmati kekayaan negara.
Ekonomi trickle-down mengacu pada kebijakan yang menguntungkan kalangan kaya dan korporasi dengan harapan manfaatnya akan mengalir ke semua orang, terutama mereka yang kurang beruntung. Misalnya, pemerintah mungkin memberikan pemotongan pajak kepada perusahaan besar, dan perusahaan tersebut bisa menggunakan uang itu untuk memperluas bisnis, yang pada akhirnya akan menciptakan lapangan kerja.
Saat menutup BNI Investor Daily Summit 2024, Rabu (9/10/2024) Prabowo memberikan gambaran singkat tentang kebijakan ekonominya yang akan datang.
Indonesia memiliki jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa pada paruh pertama 2024. Selama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) selama 10 tahun terakhir, Indonesia sukses mempertahankan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5%. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,05% secara tahunan pada kuartal kedua 2024.
Menurut Prabowo, pendekatan ekonomi trickle-down akan memakan waktu terlalu lama sebelum Indonesia bisa merasakan dampaknya.
"Meski kita memiliki banyak keunggulan, kita menghadapi tantangan besar. Pertumbuhan 5% selama bertahun-tahun memang bagus, tetapi kita harus mengakui bahwa kita masih harus bekerja untuk mencapai kesetaraan (kekayaan) yang lebih besar," ujar Prabowo dalam BNI Investor Daily Summit 2024 di Jakarta.
"Kita harus berani memperbaiki sistem kita. Kita harus bertanya pada diri kita sendiri apa yang bisa kita lakukan untuk memastikan bahwa kekayaan Indonesia didistribusikan secara adil kepada semua, bukan hanya segelintir orang. Kita tidak bisa mengandalkan ekonomi trickle-down. Itu terlalu lambat," lanjutnya.
Prabowo juga menjelaskan targetnya untuk mencapai pertumbuhan 8% yang dianggap banyak orang terlalu ambisius. Prabowo bahkan mengutip salah satu kutipan terkenal dari proklamator Indonesia, Soekarno, yang menyatakan bahwa tidak perlu takut untuk bermimpi besar.
Menurut Prabowo yang saat ini menjabat menteri pertahanan, tidak ada yang salah dengan menetapkan target pertumbuhan yang substansial selama negara bekerja keras untuk mencapainya. Jadi, jika ia gagal dan hanya mencapai pertumbuhan 7,5%, ekonomi masih tumbuh dengan laju yang kuat.
"Ingat apa yang dikatakan Soekarno, 'Bermimpilah setinggi langit. Jika kamu jatuh, kamu akan jatuh di antara bintang-bintang.’ Saya bermimpi pertumbuhan 8%, jika gagal, maka bisa turun ke 7,5% atau bahkan 7%," kata Prabowo.
“Mungkin jika bukan 8%, ekonomi kita akan tumbuh 9%. Tidak percaya? Tunggu tanggal mainnya,” ungkapnya.
Prabowo telah mengungkapkan rencananya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% dalam tiga tahun pertama masa kepresidenannya. Rencananya termasuk meningkatkan produksi biodiesel berbasis kelapa sawit untuk mengurangi impor minyak diesel.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




