ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Tarif Impor AS Turun, Ekonom: Ini Peluang dan Awal Diplomasi Ekonomi

Jumat, 18 Juli 2025 | 10:35 WIB
V
AD
Penulis: Vinnilya | Editor: AD
Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda menilai, tren perlambatan ekonomi yang terus berlanjut dapat berdampak pada pertumbuhan jangka panjang Indonesia.
Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda menilai, tren perlambatan ekonomi yang terus berlanjut dapat berdampak pada pertumbuhan jangka panjang Indonesia. (Beritasatu.com/Chesa Andini Saputra)

Jakarta, Beritasatu.com - Penurunan tarif impor Amerika Serikat (AS) terhadap produk Indonesia menjadi 19% bisa menjadi peluang besar bagi Indonesia, asalkan dimanfaatkan dengan strategi yang tepat dan komitmen jangka panjang dari pemerintah.

Ekonom Celios Nailul Huda mengatakan, pengurangan tarif impor ini merupakan momen penting yang bisa membuka ruang ekspor lebih luas ke pasar AS.

"Penurunan tarif ini tidak lepas dari pendekatan diplomasi Presiden Prabowo yang dalam pernyataannya juga menegaskan masih ada ruang untuk renegosiasi, bahkan hingga ke level 0%," kata Nailul Huda dalam program Investor Daily Talk, Kamis (17/7/2025).

ADVERTISEMENT

Ia mengatakan, dalam konteks global, langkah cepat pemerintah untuk merespons dinamika kebijakan dagang AS patut diapresiasi. 

Surat langsung dari Presiden AS Donald Trump kepada Presiden Prabowo menandakan adanya pengakuan terhadap posisi strategis Indonesia, baik secara geopolitik maupun ekonomi.

"Trump menyampaikan bahwa Indonesia sudah memberikan banyak hal. Artinya, AS menganggap kita mitra penting, terutama dalam sektor energi dan pertambangan. Ini bisa menjadi modal politik dagang untuk memperkuat posisi tawar kita," tutur dia.

Menurutnya, tantangan ke depan adalah menjaga momentum positif ini agar tidak hanya menjadi diskon jangka pendek.

Ia juga mengingatkan pentingnya memperkuat tim negosiasi agar keputusan-keputusan yang diambil tidak hanya responsif, tetapi juga berbasis data dan proyeksi jangka panjang.

Oleh sebab itu diperlukan evaluasi terus-menerus terhadap strategi negosiasi, termasuk koordinasi lintas kementerian.

“Namun, saya melihat sinyal pemerintah cukup kuat untuk memperjuangkan kesetaraan tarif. Ini bukan akhir, tetapi awal dari diplomasi ekonomi yang lebih berani," ujar Nailul.

Terkait kekhawatiran ketergantungan, ia menyebutkan bahwa diversifikasi pasar tetap penting, tetapi tidak menafikan peluang pasar AS.

Indonesia tetap harus memperluas pasar ekspor lain, seperti Timur Tengah, Afrika dan Uni Eropa. “Terlebih pemerintah sudah menjajaki ini itu dan menjadi langkah yang tepat,” tambahnya.

Ia juga menyebut, momentum ini bisa menjadi katalis reformasi sektor perdagangan dan investasi dalam negeri agar lebih siap bersaing secara global.

Apabila stakeholder mampu menjadikan ini batu loncatan, tidak hanya ekspor tetapi momentum ini juga dapat menarik investasi berkualitas dari Negara Paman Sam itu.

“Maka ini bisa jadi win-win solution dalam arti sebenarnya,” pungkas Nailul.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Kementerian ESDM Perjuangkan Panel Surya Bebas Tarif Tinggi AS

Kementerian ESDM Perjuangkan Panel Surya Bebas Tarif Tinggi AS

EKONOMI
Trump Ancam Tarif Lebih 'Ngeri' ke Negara yang Main-main dengan AS

Trump Ancam Tarif Lebih 'Ngeri' ke Negara yang Main-main dengan AS

INTERNASIONAL
Kesepakatan Dagang RI-AS Perkuat Ketahanan Energi

Kesepakatan Dagang RI-AS Perkuat Ketahanan Energi

EKONOMI
Kesepakatan Tarif Impor AS Ditargetkan Rampung Februari 2026

Kesepakatan Tarif Impor AS Ditargetkan Rampung Februari 2026

EKONOMI
Trump Ancam Tarif Tambahan bagi Negara yang Tolak AS Caplok Greenland

Trump Ancam Tarif Tambahan bagi Negara yang Tolak AS Caplok Greenland

INTERNASIONAL
Tekanan Tarif Impor AS Bayangi Ekonomi Indonesia pada 2025

Tekanan Tarif Impor AS Bayangi Ekonomi Indonesia pada 2025

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT