ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Defisit APBN 2,92 Persen Jadi Strategi Balikkan Ekonomi

Selasa, 20 Januari 2026 | 11:23 WIB
AS
H
Penulis: Addin Anugrah Siwi | Editor: HE
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa (Beritasatu.com/Addin Anugrah Siwi)

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pelebaran defisit fiskal hingga mendekati 3 persen atau tepatnya 2,92 persen dari APBN 2025 merupakan langkah kebijakan yang secara sadar ditempuh pemerintah untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional.

Purbaya menjelaskan, kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi counter-cyclical guna membalikkan perlambatan ekonomi yang terjadi sejak awal 2025 hingga Agustus 2025. Melalui defisit fiskal, pemerintah berupaya mendorong kembali aktivitas ekonomi dengan menggerakkan permintaan dan penawaran domestik.

“Defisit fisikal itu dipakai untuk apa? Untuk menggairahkan perekonomian dalam negeri. Kita hidupkan permintaan maupun penawaran di dalam negeri, karena kita tahu dari awal tahun lalu sampai Agustus melambat terus,” ujarnya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (19/1/2026).

ADVERTISEMENT

Ia menilai, tanpa intervensi fiskal yang memadai, perekonomian Indonesia berpotensi menghadapi risiko krisis. Namun, kebijakan fiskal yang dijalankan dinilai berhasil membalikkan arah ekonomi sehingga prospek ke depan menjadi lebih positif.

“Kalau enggak, kita sekarang sudah menuju krisis tuh. Tapi kan kita sudah balikkan. Jadi defisit fisikal adalah suatu konsekuensi logis dari kita menjalankan kebijakan counter-cyclical untuk membalik arah perekonomian. Dan sekarang ekonomi sudah berbalik arah. Jadi prospek kita ke depan akan lebih bagus. Itulah yang disebut kebijakan fiskal yang cerdas,” tegasnya.

Purbaya juga menyinggung gejolak sosial yang terjadi pada Agustus hingga September 2025 sebagai sinyal kuat perlunya kebijakan pemerintah untuk memulihkan daya beli masyarakat. Menurutnya, aksi demonstrasi yang muncul mencerminkan tekanan ekonomi akibat sulitnya lapangan pekerjaan dan terganggunya pemenuhan kebutuhan dasar.

“Demo yang terjadi Agustus akhir, September awal,  itu indikasi bahwa masyarakat sudah susah cari kerja, makanan sudah terganggu, segala macam. Jadi kita mesti menciptakan kebijakan yang membalikkan arah itu, mengatasi itu,” katanya.

Seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi, Purbaya menilai gejolak sosial mulai mereda.

Lebih lanjut, ia menegaskan pemerintah bersama bank sentral memiliki tanggung jawab untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Langkah ini dinilai penting untuk membuka lebih banyak lapangan kerja sekaligus menjaga stabilitas sosial.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

APBN KiTa Edisi Januari 2026

APBN KiTa Edisi Januari 2026

MULTIMEDIA
Defisit APBN 2025 Aman meski Tekanan Tinggi

Defisit APBN 2025 Aman meski Tekanan Tinggi

EKONOMI
Defisit APBN 2025 Melebar hingga 2,92 Persen dari PDB

Defisit APBN 2025 Melebar hingga 2,92 Persen dari PDB

EKONOMI
Menkeu Purbaya Insomnia gegara Pantau Defisit APBN hingga Akhir Tahun

Menkeu Purbaya Insomnia gegara Pantau Defisit APBN hingga Akhir Tahun

EKONOMI
2,02 Persen dari PDB, Defisit APBN Per Oktober 2025 Rp 479,7 Triliun

2,02 Persen dari PDB, Defisit APBN Per Oktober 2025 Rp 479,7 Triliun

EKONOMI
Defisit APBN 2025 Capai Rp 371,5 Triliun Setara 1,56 Persen PDB

Defisit APBN 2025 Capai Rp 371,5 Triliun Setara 1,56 Persen PDB

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon