Defisit APBN 2025 Aman meski Tekanan Tinggi
Kamis, 8 Januari 2026 | 18:27 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2025 tetap terjaga meski berada di tengah tekanan ekonomi global yang tinggi. Hingga 31 Desember 2025, defisit APBN tercatat sebesar Rp 695,1 triliun atau setara 2,92% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Defisit tersebut dipengaruhi oleh realisasi pendapatan negara yang mencapai Rp 2.756,3 triliun atau 91,7% dari target APBN 2025. Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp 3.451,4 triliun atau 95,3% dari pagu anggaran yang ditetapkan.
“Dengan realisasi pendapatan dan belanja tersebut, defisit APBN hingga akhir Desember 2025 tercatat sebesar Rp 695,1 triliun atau setara 2,92% terhadap PDB,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita, Kamis (8/1/2026).
Meski defisit melebar dibandingkan tahun sebelumnya, Purbaya menegaskan posisi fiskal Indonesia tetap terkendali. Sebagai catatan, target defisit APBN 2025 dipatok sebesar 2,53%, sementara realisasi defisit APBN 2024 berada di level 2,30%.
"Walaupun defisitnya membesar ke Rp 695,1 triliun, kita tetap jaga defisitnya tidak di atas 3%," tutur Purbaya.
Ia menjelaskan, pelebaran defisit tidak terlepas dari tekanan eksternal dan domestik. Dari sisi global, kebijakan tarif dagang Amerika Serikat (AS) yang agresif memicu proteksionisme dan fragmentasi ekonomi dunia. Sementara dari dalam negeri, tekanan datang dari pelemahan nilai tukar rupiah serta aksi demonstrasi yang terjadi pada akhir Agustus 2025.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah memilih untuk tidak memangkas belanja negara agar momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. Pemerintah justru memperkuat stimulus fiskal, termasuk penyaluran bantuan sosial, guna menjaga daya beli dan mendorong ekonomi tetap tumbuh.
Menurut Purbaya, kebijakan ini mencerminkan pendekatan counter-cyclical yang dijalankan pemerintah.
"Ketika ekonomi kita sedang mengalami downturn, turun ke bawah, kita akan memberikan stimulus ke perekonomian. Ini wujud dari pemerintah untuk menjaga ekonomi tetap tumbuh secara berkesinambungan tanpa membahayakan APBN," tuturnya.
Purbaya menambahkan, secara teknis pemerintah sebenarnya dapat menekan defisit hingga nol dengan memangkas anggaran. Namun, langkah tersebut dinilai berisiko memperdalam perlambatan ekonomi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




