Laba BTN Naik 16 Persen pada 2025 Tembus Rp 3,5 Triliun
Selasa, 10 Februari 2026 | 12:01 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 16% secara tahunan (year on year/yoy) pada 2025 hingga mencapai Rp 3,5 triliun. Kinerja positif ini didorong peningkatan pendapatan bunga seiring strategi perseroan menggenjot penyaluran kredit dengan imbal hasil (yield) lebih tinggi, serta keberhasilan menekan biaya dana.
Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menjelaskan, kenaikan laba tidak lepas dari penyesuaian suku bunga kredit sepanjang 2025 dan ekspansi ke segmen pembiayaan dengan yield lebih menarik.
“Kami mulai masuk ke segmen yang yield-nya tinggi, seperti KPR Bersubsidi (KPB) dengan yield sekitar 11,5%-12%,” ujar Nixon kepada awak media di Menara BTN, Senin (9/2/2026).
Selain dari sisi kredit, laba BTN juga ditopang efisiensi biaya dana (cost of fund) yang berada di bawah target Rencana Kerja Perusahaan (RKP). Nixon menyebutkan, target cost of fund BTN sebesar 3,6% berhasil ditekan hingga sekitar 3,5%.
“Di bulan Desember itu cost of fund kita sudah tinggal 3%. Bayangin kita pernah 4,3% turun ke 3%. Kalau bisa stabil, laba kita bisa naik lagi,” ungkapnya.
Wakil Direktur Utama BTN Oni Febriarto Rahardjo menegaskan, perbaikan struktur pendanaan dan ekspansi kredit menjadi kunci capaian laba perseroan.
“Nah, tadi kita sudah kasihkan kredit dana, dan lain sebagainya. Ini yang membuat, alhamdulillah, laba BTN juga bisa menjadi Rp 3,5 triliun di 2025. Kita tumbuh 16,4% dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Oni.
Dari sisi neraca, BTN mencatat total aset konsolidasian sebesar Rp 527,8 triliun pada 2025, tumbuh 12,4% yoy. Pencapaian ini sekaligus menegaskan kiprah BTN selama 76 tahun yang telah menyalurkan 5,8 juta unit rumah, termasuk kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan sektor informal, dengan pangsa pasar KPR nasional mencapai 39%.
Hingga akhir 2025, penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasian BTN tumbuh 11,9% yoy menjadi Rp 400,6 triliun dari Rp 358,9 triliun pada 2024. Mayoritas kredit disalurkan ke sektor perumahan, dengan total Rp 328,4 triliun hingga Desember 2025, naik 7,5% yoy dari Rp 305,6 triliun pada tahun sebelumnya.
Pada segmen perumahan, KPR Subsidi BTN tumbuh 10% yoy menjadi Rp 191,2 triliun dari Rp 173,8 triliun. Sementara KPR Non-Subsidi meningkat 6,7% yoy menjadi Rp 113,0 triliun dibandingkan Rp 106,0 triliun pada 2024.
Ekspansi kredit perumahan turut ditopang keterlibatan BTN dalam program pemerintah Kredit Program Perumahan (KPP) yang diluncurkan Oktober 2025. Nixon menyampaikan, BTN menjadi bank penyalur terbesar KPP dengan total penyaluran Rp 2,6 triliun hingga akhir 2025 hampir separuh dari total penyaluran nasional.
Kepercayaan masyarakat juga mendorong Dana Pihak Ketiga (DPK) konsolidasian tumbuh 14,6% yoy menjadi Rp 437,4 triliun pada akhir 2025, dari Rp 381,7 triliun setahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didukung akselerasi transaksi digital, terutama melalui superapp Bale by BTN.
Jumlah pengguna Bale by BTN meningkat 66,1% yoy menjadi 3,7 juta pada akhir 2025 dari 2,2 juta pada 2024. Volume transaksi melonjak 79,2% yoy menjadi 2,2 miliar transaksi, sementara nilai transaksi mencapai Rp 103,6 triliun naik 27,7% yoy dari Rp 81,1 triliun. Kontribusi saldo pengguna Bale by BTN terhadap DPK mencapai Rp 22,8 triliun, tumbuh 15,3% yoy.
Seiring pertumbuhan bisnis, kualitas aset juga membaik. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross turun menjadi 3,1% dari 3,2% pada 2024.
BTN meningkatkan pencadangan dengan NPL coverage mencapai 123,9% pada akhir 2025, naik 856 basis poin dari 115,4% setahun sebelumnya. Permodalan pun diperkuat, tercermin dari rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 20,9% per 31 Desember 2025, naik 240 basis poin dari 18,5%.
Pada 2025, BTN juga menuntaskan aksi korporasi strategis melalui pendirian anak usaha Bank Syariah Nasional (BSN) sebagai bank syariah terbesar kedua di Indonesia. BSN membukukan total aset Rp 73 triliun pada akhir 2025, meningkat 20,5% yoy, dengan pembiayaan naik 25,0% yoy menjadi Rp 55 triliun dan DPK tumbuh 18,4% yoy menjadi Rp 59 triliun.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




