Tensi Perang Iran Memanas, OJK Pantau Risiko Inflasi dan Arus Modal
Selasa, 3 Maret 2026 | 19:33 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Israel-Amerika Serikat dan Iran, berpotensi menimbulkan dampak rambatan terhadap stabilitas pasar keuangan global dan domestik.
Pejabat Sementara (Pjs) Ketua dan Wakil Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, eskalasi konflik tersebut perlu diantisipasi, terutama jika berdampak pada jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz. Sekitar 30% pasokan minyak dunia diketahui melewati kawasan tersebut, termasuk distribusi gas alam cair (LNG).
Menurutnya, apabila gangguan berlangsung berkepanjangan, hal itu berisiko mendorong kenaikan harga energi global yang pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral di berbagai negara dan memicu pengetatan likuiditas di pasar keuangan global.
“Kita harus melihat bagaimana dampaknya terhadap likuiditas global, pertumbuhan ekonomi, serta potensi persaingan dalam memperebutkan aliran dana global. Karena itu, kita harus memastikan kesiapan domestik agar mampu menghadapi eksposur global yang tinggi,” ujarnya dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Selasa (3/3/2026).
OJK juga mencermati meningkatnya ketidakpastian global yang dapat mendorong pergeseran dana investor ke instrumen safe haven atau flight to quality. Dalam situasi seperti ini, pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, dituntut untuk tetap menunjukkan fundamental yang kuat agar tetap kompetitif dan menarik bagi investor.
“Kita dituntut untuk menunjukkan integritas dan likuiditas yang kuat sekaligus tata kelola yang kredibel supaya tetap kompetitif dan menarik untuk aliran modal asing," imbuh Friderica yang akrab disapa Kiki.
Ia menilai, peningkatan tensi geopolitik dan fragmentasi geoekonomi pada awal 2026, termasuk dinamika kebijakan perdagangan Amerika Serikat menjadi downside risk yang berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global.
Sehubungan dengan itu, OJK meminta seluruh lembaga jasa keuangan (LJK) untuk terus memantau perkembangan global serta mengantisipasi dampaknya terhadap kondisi debitur dan stabilitas pasar keuangan domestik. Penguatan manajemen risiko dan pelaksanaan stress testing dalam berbagai skenario juga terus didorong.
OJK bersama anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang terdiri dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga memastikan koordinasi tetap berjalan erat guna menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Selain itu, OJK menegaskan akan terus melanjutkan reformasi struktural untuk memperkuat fundamental sektor keuangan, termasuk peningkatan integritas dan likuiditas pasar, sebagai langkah antisipatif menghadapi ketidakpastian global.
"Kami minta untuk terus mencermati situasi yang terjadi serta melakukan antisipasi dampaknya terhadap kondisi debitur dan juga di pasar keuangan," tutup Kiki.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Ini Senjata Iran yang Bikin Rontok Jet Tempur F-15 AS
Ribuan Warga Mojokerto Terima Bantuan Pangan
Sampah Laut Kian Parah, Pengelolaan di Darat Jadi Sumber Masalah
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Man City vs Liverpool, Mengapa Guardiola Tak Ada di Pinggir Lapangan?




