ICDX Proyeksikan Harga Emas Bisa Tembus US$ 6.000 Akhir 2026
Jumat, 13 Maret 2026 | 14:32 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) memproyeksikan harga emas berada di kisaran US$ 5.500–US$ 6.000 per troy ounce hingga akhir 2026, dengan volatilitas yang tetap tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Analis Research and Development ICDX Tiffani Safinia mengatakan sejumlah lembaga keuangan global telah menaikkan proyeksi harga emas untuk 2026. Kenaikan tersebut didorong oleh risiko geopolitik global yang masih tinggi serta permintaan struktural dari bank sentral.
“Hal ini mencerminkan ekspektasi reli yang semakin menguat di tengah ketidakpastian geopolitik dan pembelian agresif oleh bank sentral,” kata Tiffani Safinia dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap 30 analis dan trader internasional, median proyeksi harga emas pada 2026 berada di US$ 4.746,50 per troy ounce. Angka ini melonjak signifikan dibanding estimasi sebelumnya sebesar US$ 4.275 yang dirilis pada Oktober 2025.
Di tingkat institusional, beberapa bank investasi juga merevisi proyeksi harga emas. Goldman Sachs Group Inc. menaikkan target harga emas akhir 2026 menjadi US$ 5.400 per troy ounce dari sebelumnya US$ 4.900. Sementara JPMorgan Chase memproyeksikan harga emas mencapai US$ 6.300 per troy ounce.
Adapun Morgan Stanley memperkirakan rata-rata harga emas berada di level US$ 4.600 dengan skenario bullish mencapai US$ 5.700 pada paruh kedua 2026. Deutsche Bank memproyeksikan harga emas menembus US$ 6.000 per troy ounce pada tahun ini.
Sementara Citi Research memperkirakan harga emas berada di kisaran US$ 5.000 per troy ounce, dan UBS mematok proyeksi sebesar US$ 6.200 per troy ounce. Menurut ICDX, pergerakan harga emas juga dipengaruhi lonjakan harga energi yang sempat memicu kekhawatiran inflasi.
Selain itu, pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun turut berfluktuasi karena pasar memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Dalam kondisi saat ini, dolar AS dan imbal hasil obligasi AS dinilai dapat menjadi faktor yang lebih dominan dibandingkan sentimen safe haven dari konflik geopolitik.
Jika berkaca pada tahun sebelumnya, Tiffani menyebut 2025 menjadi salah satu tahun terbaik bagi emas dalam beberapa dekade. Hal ini sekaligus memperkuat peran komoditas tersebut sebagai aset safe haven dan instrumen diversifikasi di tengah ketidakpastian global.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




