Program Biodiesel Efektif Tekan Impor BBM dan Hemat Devisa
Senin, 13 April 2026 | 15:38 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kebijakan mandatori biodiesel dinilai memiliki peran penting dalam menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis solar.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Rhenald Kasali mengatakan, kebijakan tersebut berpotensi besar sebagai pengganti solar. Hal ini didukung oleh melimpahnya bahan baku kelapa sawit di dalam negeri serta kesiapan teknologi pengolahannya yang sudah relatif matang.
"Program biodiesel memang efektif menekan impor solar dan memperbaiki neraca perdagangan energi melalui pengurangan impor solar secara signifikan. Program itu bisa menghemat devisa hingga US$ 8-US$ 10 miliar per tahun," katanya di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Rhenald juga menekankan pentingnya tata kelola industri kelapa sawit yang baik guna menjaga keberlanjutan program biodiesel. Hal ini mencakup upaya mencegah deforestasi, menjaga kelestarian lingkungan, serta menghormati hak masyarakat adat. Ia turut mengingatkan agar program ini mampu mengurangi potensi konflik antara kebutuhan pangan dan energi (trade-off fuel-food).
"Perlu diingat, sawit bukan produk homogen untuk energi. Peningkatan alokasi crude palm oil (CPO) ke energi dapat mengurangi pasokan pangan yang memicu kesulitan bagi substitusi dapur, yaitu kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng," ingatnya.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi) Tungkot Sipayung. Ia menilai pengembangan bioenergi melalui kebijakan mandatori biodiesel berkontribusi signifikan dalam menekan impor BBM berbasis fosil.
Tungkot menjelaskan bahwa Indonesia terus mengembangkan program mandatori biodiesel secara bertahap, mulai dari B1 hingga menuju B50 yang ditargetkan terealisasi pada Juli 2026. Program ini mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor solar hingga sekitar 50%. Implementasi biodiesel B40 bahkan berhasil menurunkan impor solar dari 8,3 juta kiloliter pada 2024 menjadi 5 juta kiloliter pada 2025, atau turun 3,3 juta kiloliter.
Dari sisi ekonomi, kebijakan biodiesel sepanjang 2025 berhasil menghemat devisa impor sebesar Rp 130,21 triliun dan menurunkan emisi hingga 38,88 juta ton CO2 ekuivalen. Selain itu, program B40 juga meningkatkan nilai tambah CPO menjadi biodiesel sebesar Rp 20,43 triliun.
Implementasi kebijakan mandatori biodiesel di Indonesia dilakukan secara bertahap sejak 2008, dimulai dari B1 hingga B2.5, dan terus berkembang hingga ditargetkan mencapai B50. Program ini didukung oleh pendanaan dari dana sawit yang bersumber dari pungutan ekspor (levy) dan dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
"Salah satu keberhasilan kita saat ini adalah substitusi solar impor dengan biodiesel sawit," tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pengembangan bioenergi sawit bertujuan untuk mendukung perbaikan lingkungan. Penggunaan biodiesel dinilai lebih ramah lingkungan karena menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil. Secara global, konsumsi energi fosil menyumbang sekitar 70%-80% emisi yang memicu pemanasan global dan perubahan iklim.
"Dengan menggunakan bioenergi sawit, Indonesia telah berkontribusi mengurangi emisi global. Artinya, penggunaan bioenergi sawit juga memperbaiki lingkungan hidup dan bukan merusak lingkungan," tegasnya.
Tungkot optimistis bioenergi berbasis sawit akan menjadi bagian penting dalam mewujudkan kemandirian dan swasembada energi nasional di masa depan. Dengan demikian, Indonesia diharapkan tidak lagi bergantung pada impor BBM fosil.
Peningkatan penggunaan biodiesel di dalam negeri diproyeksikan memberi dampak luas, tidak hanya pada sektor energi tetapi juga terhadap perekonomian nasional. Kebijakan ini turut mendorong kinerja industri kelapa sawit, meningkatkan permintaan CPO, serta membantu menjaga harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.
"Oleh karena itu, produktivitas kebun sawit harus terus ditingkatkan dan teknologi pengolahan bioenergi diperbaiki secara terus-menerus sehingga diperoleh teknologi yang semakin efisien," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




