Harga Plastik Melonjak, RI Buru Impor Nafta dari AS hingga Afrika
Senin, 13 April 2026 | 21:43 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah Indonesia mulai bergerak cepat untuk mengamankan pasokan bahan baku plastik guna meredam lonjakan harga di pasar domestik. Langkah strategis ini dilakukan dengan memperluas pencarian pasokan nafta, sebagai bahan baku utama plastik, ke sejumlah negara alternatif seperti India, Amerika Serikat, hingga negara-negara di kawasan Afrika.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan, diversifikasi negara asal impor menjadi prioritas jangka pendek pemerintah saat ini. Keputusan ini diambil menyusul terganggunya jalur distribusi minyak dan produk turunannya dari kawasan Timur Tengah akibat eskalasi konflik geopolitik global.
Kondisi tersebut memaksa Indonesia untuk segera melepaskan ketergantungan pada pemasok tradisional guna menjaga stabilitas industri dalam negeri.
Dalam keterangannya di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026), Budi menjelaskan, pemerintah telah menginstruksikan para atase dagang Republik Indonesia di luar negeri untuk aktif memetakan dan mencari eksportir baru.
Hal ini menjadi krusial mengingat produsen plastik di negara-negara mitra utama seperti Taiwan, Korea Selatan, Thailand, hingga Singapura tengah mengalami status force majeure atau penghentian produksi sementara akibat kelangkaan bahan baku yang serupa.
Meskipun pencarian sumber baru terus diintensifkan, pemerintah mengakui bahwa volume pasokan dari negara-negara alternatif tersebut belum dapat dipastikan secara mendetail karena proses pengadaan masih berjalan.
Untuk saat ini, pelaku industri di dalam negeri diminta tetap mengandalkan stok yang tersedia sembari menunggu realisasi impor masuk ke pasar domestik dalam waktu dekat.
Upaya diversifikasi ini diharapkan mampu memberikan napas baru bagi industri plastik nasional yang sedang tertekan. Pemerintah optimis bahwa dengan masuknya pasokan nafta dari jalur-jalur baru, tekanan terhadap harga plastik dapat segera berkurang, sehingga biaya produksi di tingkat manufaktur kembali stabil dan rantai pasok kebutuhan masyarakat tidak terganggu lebih jauh.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




