Harga Plastik Melonjak, Pemerintah Bahas Stimulus Industri Hari Ini
Selasa, 28 April 2026 | 05:48 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah akan menggelar rapat lintas kementerian dan lembaga pada Selasa (28/4/2026) untuk merespons lonjakan harga plastik global yang mulai menekan biaya produksi di dalam negeri.
Rapat tersebut dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Program Pemerintah.
Pembahasan akan difokuskan pada upaya meredam dampak kenaikan harga bahan baku plastik, termasuk opsi pemberian stimulus bagi industri serta penyelesaian hambatan (debottlenecking) yang memicu tekanan biaya.
“Besok kita akan bahas dalam rapat tim Satgas Percepatan Ekonomi Nasional, termasuk debottlenecking,” ujar Airlangga di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (27/4/2026).
Ia menjelaskan, langkah tersebut merupakan respons atas keluhan pelaku usaha yang menghadapi lonjakan biaya produksi akibat kenaikan harga plastik global.
"Pemerintah membuka peluang pemberian insentif fiskal guna menahan dampak agar tidak berlanjut ke kenaikan harga barang konsumsi," ucap dia.
Kenaikan harga plastik global telah berdampak luas, terutama pada industri makanan dan minuman serta sektor manufaktur yang bergantung pada kemasan plastik. Tekanan ini berpotensi menekan margin produsen dan mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
Rapat tersebut melibatkan Satgas yang dibentuk melalui Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2026, dengan mandat mengoordinasikan percepatan program prioritas, termasuk stimulus ekonomi dan penyelesaian hambatan strategis di dunia usaha.
Di sisi lain, pemerintah juga mempercepat penambahan pasokan bahan baku plastik dari negara alternatif. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut impor nafta tengah diproses dari India, Amerika Serikat, dan Afrika.
“Ya secepatnya (turun bulan ini),” kata Budi.
Ia menjelaskan, lonjakan harga dipicu gangguan pasokan dari Timur Tengah yang selama ini menjadi sumber utama nafta, bahan baku plastik Indonesia.
“Bahan baku bijih plastik itu nafta dari Timur Tengah. Karena imbas perang sehingga terganggu,” ujarnya.
Meski impor telah diproses, tambahan pasokan masih membutuhkan waktu untuk masuk ke pasar domestik.
“Impor dari tiga negara tadi sudah diproses, tapi perlu waktu. Sekarang masih proses dengan stok yang ada,” jelasnya.
Pemerintah pun terus mencari alternatif pasokan guna menjaga stabilitas harga dan memastikan kebutuhan industri tetap terpenuhi.
“Pada prinsipnya kita cari solusi negara lain yang mensuplai bahan baku,” tutupnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




