ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Purbaya Soroti Pendalaman Pasar Modal: Dari 2000 yang Tak Terlaksana

Senin, 27 April 2026 | 17:17 WIB
AS
MK
Penulis: Addin Anugrah Siwi | Editor: MBK
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa (Beritasatu.com/Addin Anugrah Siwi)

Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti upaya pendalaman pasar modal nasional yang dinilai belum berjalan optimal meski telah lama diwacanakan.

Purbaya mengaku isu pendalaman pasar modal sudah terdengar sejak tahun 2000, namun hingga kini dampaknya belum terlihat signifikan.

“Bosan ya? Saya sudah dengar istilah pendalaman pasar modal sejak tahun 2000, sampai sekarang enggak dalam-dalam. Mungkin kita pakai cangkul yang salah,” ujar Purbaya dalam Peresmian Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana serta Pembukaan Pekan Reksa Dana Tahun 2026 di Bursa Efek Indonesia, Senin (27/4/2026).

Menurutnya, bisa jadi pendekatan yang digunakan selama ini belum tepat sasaran. Ia juga mempertanyakan efektivitas berbagai program yang telah dijalankan, termasuk program literasi keuangan seperti reksa dana.

ADVERTISEMENT

Mengacu pada agenda kemandirian ekonomi dalam Asta Cita, Purbaya menegaskan pendalaman pasar keuangan merupakan syarat penting yang tidak bisa diabaikan. Namun, implementasinya di lapangan dinilai masih belum memberikan hasil yang kuat.

Karena itu, pemerintah saat ini disebut tengah menyiapkan pendekatan baru untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional, termasuk melalui percepatan reformasi dan pertumbuhan ekonomi.

Koordinasi kebijakan juga diperkuat dengan penugasan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto untuk menangani berbagai hambatan dalam program strategis.

“Kami, saya, Pak Airlangga, tidak main-main dalam hal itu. Kalau dulu banyak pembangunan yang lambat, sekarang Pak Airlangga diberi kewenangan oleh Presiden untuk menangani semuanya,” imbuhnya.

Di tengah ketidakpastian global, Purbaya menyebut ekonomi domestik tetap menunjukkan kinerja solid dengan pertumbuhan 5,39% dan diperkirakan meningkat ke kisaran 5,5% pada triwulan I-2026.

Ia optimistis, dengan reformasi yang berjalan dan penguatan sektor swasta, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat meningkat hingga 6% dalam jangka menengah, bahkan berpotensi mencapai 8% dalam beberapa tahun ke depan.

“Belum lagi nanti kita ubah struktur ekonominya secara bertahap. Jadi pertumbuhan 8% mungkin terdengar tinggi, tapi menurut saya sudah mulai terlihat. Mungkin dalam 2–3 tahun ke depan,” ujarnya.

Ia menambahkan, peningkatan pertumbuhan ekonomi juga akan berdampak positif terhadap prospek pasar saham nasional. “Anda sudah lihat angka 8% itu mulai mendekat. Artinya prospek pasar saham kita juga akan naik signifikan,” tandasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

IHSG Naik 2,82 Persen dalam Sepekan

IHSG Naik 2,82 Persen dalam Sepekan

EKONOMI
Lonjakan Saham SpaceX Selamatkan Bitcoin

Lonjakan Saham SpaceX Selamatkan Bitcoin

EKONOMI
Short Selling Masih Jadi Pertanyaan, BEI Bakal Temui MSCI

Short Selling Masih Jadi Pertanyaan, BEI Bakal Temui MSCI

EKONOMI
BEI Segera Klarifikasi Review MSCI Soal Penggunaan Bahasa Inggris

BEI Segera Klarifikasi Review MSCI Soal Penggunaan Bahasa Inggris

EKONOMI
IHSG Sesi I Jumat Melemah 0,73 Persen, Mayoritas Indeks Sektor Merah

IHSG Sesi I Jumat Melemah 0,73 Persen, Mayoritas Indeks Sektor Merah

EKONOMI
Jeffrey Hendrik Dilantik Jadi Dirut BEI, Ini Daftar Direksinya

Jeffrey Hendrik Dilantik Jadi Dirut BEI, Ini Daftar Direksinya

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon