ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Prospek Tambang Cerah, Permintaan Batubara dan Nikel Naik

Senin, 4 Mei 2026 | 15:31 WIB
AD
AD
Penulis: Alfi Dinilhaq | Editor: AD
Ilustrasi truk tambang.
Ilustrasi truk tambang. (Andalan)

Jakarta, Beritasatu.com - Industri pertambangan Indonesia semakin memperkuat peran sebagai penopang utama ketahanan energi dan ekonomi nasional. Komoditas batubara dan nikel menjadi motor penggerak utama yang mendorong aktivitas sektor ini terus meningkat.

Berdasarkan dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, kebutuhan listrik nasional diproyeksikan tumbuh rata-rata 5,3% per tahun. Kondisi ini turut menjaga permintaan batubara tetap stabil sebagai sumber utama pembangkit listrik di dalam negeri.

Meski energi baru terbarukan terus dikembangkan, batubara masih memegang peran strategis dalam bauran energi nasional.

ADVERTISEMENT

Pada sisi lain, nikel semakin menegaskan posisi sebagai komoditas masa depan, terutama dalam mendukung transisi energi global. Indonesia saat ini menguasai sekitar 67% produksi nikel dunia, dan diproyeksikan meningkat menjadi 74% pada 2035.

Peningkatan aktivitas pada dua komoditas tersebut berdampak langsung pada kebutuhan operasional tambang yang semakin besar dan kompleks.

Seiring meningkatnya skala dan kompleksitas operasional, perusahaan tambang tidak lagi mampu menangani seluruh aktivitas secara mandiri. Peran kontraktor jasa pertambangan pun menjadi semakin krusial.

Direktur Utama PT Andalan Artha Primanusa Gahari Christine mengatakan keberhasilan proyek tambang sangat bergantung pada kualitas eksekusi di lapangan.

"Di industri pertambangan, yang paling menentukan bukan hanya resource, tapi konsistensi eksekusi di lapangan," ujarnya pada Senin (4/5/2026).

"Karena itu, peran kontraktor menjadi semakin penting dalam menjaga produktivitas dan efisiensi operasional," lanjutnya.

Prospek industri pertambangan diperkirakan tetap solid dalam jangka panjang. Pertumbuhan sektor energi konvensional masih stabil, sementara hilirisasi nikel terus dipercepat.

Produksi nikel global diproyeksikan mencapai 5 juta metrik ton pada 2035 dengan tingkat pertumbuhan tahunan sekitar 8%. Selain itu, Indonesia juga menguasai sekitar 45% pangsa pasar pengolahan (refining) nikel dunia.

Pertumbuhan ini dipastikan akan meningkatkan kebutuhan terhadap jasa kontraktor tambang yang mampu mendukung operasional secara efisien dan terintegrasi.

Melihat peluang tersebut, Andalan terus memperkuat posisinya melalui ekspansi operasional dan kemitraan strategis. Dalam delapan tahun terakhir, perusahaan ini menyediakan layanan menyeluruh mulai dari eksplorasi, produksi, hingga reklamasi.

Operasionalnya tersebar di berbagai wilayah strategis, seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, hingga Halmahera Timur, dengan dukungan kerja sama dari berbagai perusahaan besar di sektor energi.

Memasuki 2026, perusahaan juga mengamankan sejumlah kontrak baru di sektor batubara, termasuk dari PT Daya Bumindo Karunia, PT Intan Bumi Persada, dan PT Arkara Prathama Energi.

Tak hanya itu, Andalan juga memperluas bisnis ke sektor nikel sejak awal 2026 melalui kerja sama pengembangan tambang di Maluku Utara.

Perkembangan industri batubara dan nikel tidak terlepas dari kebijakan hilirisasi dan kebutuhan energi global. Kedua komoditas ini tetap menjadi penopang utama dalam memenuhi kebutuhan energi sekaligus mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih.

Dengan fundamental industri yang kuat, kebutuhan operasional di sektor pertambangan diperkirakan terus meningkat. Kondisi ini membuka peluang besar bagi perusahaan jasa kontraktor tambang untuk memperluas peran dan kontribusinya di masa depan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon