Harga Emas Dunia Anjlok Hampir 2 Persen Tertekan Dolar dan Suku Bunga
Selasa, 5 Mei 2026 | 08:52 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Harga emas dunia kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Senin (4/5/2026), dengan penurunan mendekati 2% di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ketidakpastian global.
Mengutip CNBC International, Selasa (5/5/2026), kondisi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah justru mendorong investor beralih ke aset yang lebih likuid. Akibatnya, emas yang selama ini dikenal sebagai aset safe haven ikut terdampak aksi jual.
Secara penutupan, harga emas tercatat merosot 1,97% ke level US$ 4.523,88 per ons troi. Sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni juga melemah lebih dalam, yakni 2,41% ke posisi US$ 4.532,4 per ons troi.
Sementara itu, pada Selasa (5/5/2026), harga emas spot berada di kisaran US$ 4.538,35 per ons, naik tipis 0,36% dibandingkan posisi sebelumnya.
Tekanan terhadap emas tidak hanya berasal dari faktor geopolitik, tetapi juga ekspektasi suku bunga tinggi yang diperkirakan bertahan lebih lama.
“Berita terbaru jelas tidak memberikan keyakinan bahwa situasi akan segera membaik. Ini kembali memunculkan kekhawatiran inflasi, disertai sinyal kebijakan suku bunga yang cenderung hawkish,” ujar Global Head of Commodity Strategy TD Securities Bart Melek.
Ketegangan meningkat setelah Iran dilaporkan melakukan serangan terhadap sejumlah kapal di Selat Hormuz serta membakar fasilitas pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab.
Peristiwa ini terjadi bersamaan dengan langkah Amerika Serikat mengerahkan angkatan laut guna membuka jalur pelayaran, memicu eskalasi terbesar sejak gencatan senjata beberapa pekan lalu.
Situasi tersebut langsung mengerek nilai dolar AS dan mendorong harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 5%. Penguatan dolar menjadi beban tambahan bagi emas, karena harga logam mulia ini menggunakan denominasi dolar sehingga menjadi lebih mahal bagi investor global.
Lonjakan harga energi turut meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Hal ini memperkuat pandangan bahwa bank sentral, termasuk Federal Reserve, akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Sejumlah institusi keuangan, seperti Barclays, bahkan memperkirakan tidak akan ada pelonggaran kebijakan moneter sepanjang tahun ini. Pekan sebelumnya, The Fed juga memutuskan untuk menahan suku bunga dalam keputusan yang dinilai paling terpecah sejak 1992.
Fokus pasar kini mengarah pada rilis data ekonomi penting Amerika Serikat, mulai dari data lowongan kerja, laporan tenaga kerja ADP, hingga data payroll April.
Secara teori, emas biasanya menjadi pilihan utama saat ketidakpastian meningkat. Namun dalam kondisi suku bunga tinggi, daya tariknya cenderung berkurang karena tidak memberikan imbal hasil.
“Saya melihat area support kuat di sekitar US$ 4.200 per ons troi. Namun, ketidakpastian serta kemungkinan kenaikan suku bunga dapat mendorong sebagian trader keluar dari posisi dalam jangka pendek,” tambah Melek.
Tidak hanya emas, tekanan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak turun 3,5% menjadi US$ 72,67 per ons, platinum melemah 2,2% ke US$ 1.946,15 per ons, dan paladium terkoreksi 3% ke US$ 1.478,74 per ons.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




