Gubernur BI: Ekonomi 2018 Hadapi 5 Tantangan
Rabu, 28 Maret 2018 | 11:23 WIB
Jakarta- Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengakui ada lima tantangan ekonomi global yang harus segera dibenahi Indonesia. Salah satunya daya saing ekonomi yang belum kuat.
"Ada beberapa hal yang bisa membuat ekonomi Indonesia lebih baik yakni dalam hal infrastruktur kelembagaan, inovasi teknologi, maupun human capital," kata dia dalam diskusi panel di sela-sela peluncuran buku Laporan Perekonomian Indonesia tahun 2017, di gedung BI, Jakarta, Rabu (28/3).
Kedua, kapasitas dan kapabilitas industri yang terbatas seperti ekspor komoditas dan impor yang berorientasi domestik. Oleh karena itu, BI akan mendorong ekonomi daerah untuk jadi lebih kuat.
Ketiga, terbatasnya pembiayaan, khususnya untuk infrastruktur. Di sektor swasta, Agus menambahkan, perlu ditingkatkan peranannya. "Ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi domestik mengalami defisit ganda baik di sisi fiskal dan neraca transaksi berjalan. Hal inilah yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi kita belum merespons pemulihan ekonomi global," katanya
Keempat, pertumbuhan ekonomi digital yang mengubah sektor riil dan finansial. Sebagai sumber ekonomi baru, maka BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan pemerintah akan memperkuat koordinasi dan kebijakan ekonomi digital yang bersinergi. "Terakhir tantangan ekonomi inklusi," kata dia.
Sementara dalam peluncuran buku yang dihadiri mantan Wakil Presiden Boediono, ada tiga momentum ekonomi yang menurut Agus Marto mengemuka sepanjang 2017. Pertama, bersumber dari global di mana ada perbaikan ekonomi dunia yang secara produk domestik bruto (PDB) 2017 naik jadi 7 persen dari tahun sebelumnya 3,2 persen. Alhasil perbaikan ekonomi para mitra dagang berimbas ke perekonomian domestik nasional melalui pertumbuhan ekspor. Ditambah perbaikan harga komoditas dan nilai investasi asing yang meningkat.
Kedua, terjadinya stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan yang terus terjaga. Hal ini menurutnya, tak lepas dari kehati-hatian dan kebijakan makro ekonomi yang ditempuh BI dan pemerintah. Sehingga, stabilitas makro dalam negeri terjaga yang tercermin dari inflasi, rupiah dan terjaganya kinerja pasar modal dan perbankan.
Ketiga, membaiknya keyakinan pelaku ekonomi terhadap ekonomi domestik Indonesia. Beberapa lembaga peringkat internasional juga berbondong-bondong menaikkan rating Indonesia, termasuk peringkat global competitiveness juga membaik dari nomor 41 menjadi ke 36. Begitupun juga iklim usaha yang membaik ke peringkat 72 dari 91.
Di acara yang sama, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Suahasil Nazara menuturkan, masa transisi ekonomi yang terjadi di tahun 2017 akan berlanjut di tahun 2018. Transisi terjadi baik dari hal APBN, pengeluaran, dan pembelajaran mengenai utang. "2018 masih akan terjadi transisi. 3-4 tahun anggaran pemerintah bukan jadi sumber ekonomi, tetapi dari konsumsi, investasi dan ekspor," pungkasnya.
Oleh karena itu, konsumsi diharapkan bisa meningkat secara stabil. Begitupun dengan inflasi yang terjaga. Investasi, sambungnya juga harus terus tumbuh dan Kementerian Keuangan siap mengeluarkan kebijakan dan insentif untuk mempercepat arus investasi masuk, termasuk dalam hal perpajakan. "2017 masih masa transisi dan akan dilanjutkan transisi sampai kualitas APBN membaik secara gradual," kata Suahasil.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




