Organisasi Insinyur se-ASEAN Beri Penghargaan pada Jokowi
Senin, 9 September 2019 | 18:35 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Organisasi insinyur dari 10 negara ASEAN yang tergabung dalam ASEAN Federation of Engineering Organisations (AFEO) memberi penghargaan The AFEO Distinguished Honorary Patron Award kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Penghargaan akan diberikan bersamaan dengan Konferensi Organisasi Insinyur se-ASEAN ke-37 (CAFEO37) di Jakarta pada Rabu-Jumat 11-14 September 2019.
"Bapak Presiden sudah confirmed akan hadir untuk membuka konferensi dan menerima penghargaan. Tentu ini momen yang berharga bagi kita semua," kata Chairman AFEO yang juga menjabat Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Heru Dewanto, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (9/9/2019).
Heru menjelaskan, anugerah yang akan diterima Presiden Jokowi adalah penghargaan tertinggi AFEO pada kepada Kepala Negara yang telah memberikan jasa dan kontribusi signifikan terhadap profesi insinyur dan bidang keteknikan di negaranya.
"Penghargaan ini hanya diberikan kepada satu orang penerima di setiap perhelatan Konferensi Organisasi Insinyur se-ASEAN yang diselenggarakan setahun sekali. Penerima adalah tingkat Kepala Negara dan/atau Kepala Pemerintahan sebuah negara seperti Raja, Presiden atau Perdana Menteri," kata Heru Dewanto.
Diketahui, PM Malaysia Mahathir Mohamad adalah penerima penghargaan yang sama di CAFEO36 di Singapura 2018 lalu.
CAFEO37, menurut Heru, lebih dari sekedar acara seremoni tahunan yang akan dihadiri 1.000 insinyur ASEAN. Konferensi kali ini juga menjadi etalase kebanggaan yang menampilkan pencapaian pembangunan Indonesia kepada dunia internasional. "Karya-karya terbaik insinyur Indonesia akan ditampilkan di CAFEO37," kata Heru Dewanto.
Heru Dewanto mengatakan, berkat disahkannya UU No 11/2014 tentang Keinsinyuran, kini PII sebagai organisasi profesi semakin kuat. "Ini kontribusi luar biasa terhadap para insinyur di Indonesia yang bekerja nyata di balik setiap proyek infrastruktur," kata Heru Dewanto.
Menurut Heru, 2019 menjadi tahun penting bagi insinyur Indonesia. Selain tuan rumah CAFEO, tahun ini menjadi momentum PII memulai langkah pertama menuju era transformasi keinsinyuran pasca-disahkannya UU Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran dan PP Nomor 25 Tahun 2019.
Tak hanya itu, PII juga telah mulai bekerja untuk mencetak insinyur-insinyur baru di Tanah Air. Heru menambahkan, profesi insinyur kini tidak lagi menjadi monopoli mereka yang bergelar sarjana teknik. Kini, lulusan D4 keteknikan bisa menyandang gelar insinyur profesional, bahkan diakui di dunia internasional.
"Insinyur profesional Indonesia sudah disetarakan dengan insinyur di ASEAN dan seluruh negara Asia Pasifik, ini juga berlaku bagi para lulusan vokasi," ujar Heru Dewanto.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




