Indonesia Tak Akan Maju Tanpa Reindustrialisasi
Sabtu, 5 Juli 2025 | 16:22 WIB
Tangerang, Beritasatu.com – Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ilham Akbar Habibie, mendorong pemerintah dan seluruh elemen bangsa untuk memulai gerakan reindustrialisasi nasional. Langkah ini dinilai penting guna mendorong pertumbuhan ekonomi dan menyukseskan visi Indonesia Emas 2045.
Berbicara dalam Seminar Nasional Outlook Industrialisasi Indonesia di ICE BSD, Tangerang, Sabtu (5/7/2025), Ilham menekankan bahwa kemajuan negara-negara di dunia tidak terlepas dari kekuatan sektor industrinya. Oleh karena itu, Indonesia perlu mengambil langkah serius dalam memperkuat struktur industrinya.
“Ini bukan hanya tugas pemerintah. Semua pihak harus terlibat. Akademisi, pelaku industri, dunia pendidikan, dan masyarakat sipil harus bergerak bersama. Kemandirian teknologi hanya bisa dicapai apabila Indonesia memiliki struktur industri yang kokoh dan berkelanjutan, dan itu hanya dapat diwujudkan melalui kontribusi nyata para insinyur Indonesia,” tegas Ilham.
Ia menyoroti bahwa Indonesia saat ini justru mengalami fase deindustrialisasi, bukan reindustrialisasi. Deindustrialisasi adalah kondisi menurunnya aktivitas industri di suatu wilayah, yang ditandai dengan penurunan output manufaktur, berkurangnya kontribusi sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB), dan menurunnya lapangan kerja di sektor industri.
Sebaliknya, reindustrialisasi adalah upaya menyeluruh dan komprehensif untuk membangun kembali sektor industri nasional, khususnya manufaktur, agar mampu mendorong kemajuan ekonomi berkelanjutan.
Menurut Ilham, reindustrialisasi harus menjadi gerakan nasional dan perjuangan kolektif seluruh komponen bangsa. Ia menyatakan, PII telah berkomitmen untuk terlibat aktif, dengan menyusun kerangka kebijakan strategis, policy brief, dan peta jalan (roadmap) reindustrialisasi Indonesia yang akan diserahkan kepada para pemangku kepentingan.
Dalam paparannya, Ilham juga menyoroti rendahnya produktivitas tenaga kerja Indonesia dibanding negara tetangga. Saat ini, produktivitas pekerja Indonesia hanya sekitar US$ 26.000 per tahun, jauh di bawah Malaysia (US$ 55.000) dan Thailand (US$ 32.000).
“Hal ini mencerminkan ketimpangan dalam kualitas SDM dan kurangnya link and match antara pendidikan dengan kebutuhan industri,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa investasi Indonesia dalam bidang riset dan pengembangan (research and development atau R&D) masih sangat rendah, hanya sekitar 0,3% dari PDB. Angka ini jauh dari ideal, terutama bagi negara dengan status pendapatan menengah atas.
“Idealnya, kita sebagai negara dengan status pendapatan menengah atas sudah mengalokasikan 1,8% untuk R&D. Tanpa itu, mustahil kita punya industri berbasis inovasi,” ungkap Ilham.
Meskipun tantangan yang dihadapi tidak sedikit, Ilham tetap optimistis bahwa Indonesia memiliki semua prasyarat untuk bangkit sebagai kekuatan industri baru. Mulai dari sumber daya alam melimpah, tenaga kerja muda, hingga warisan sejarah perjuangan bangsa.
“Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian dan komitmen kolektif. Reindustrialisasi bukan pilihan. Ini adalah satu-satunya jalan untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri, sejahtera, dan berdaya saing di kancah global,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online




