ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Reindustrialisasi Jadi Strategis Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Sabtu, 5 Juli 2025 | 17:35 WIB
HS
H
Penulis: Hendro Dahlan Situmorang | Editor: HE
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy dalam seminar nasional Persatuan Insinyur Indonesia (PII) bertajuk Outlook Industrialisasi Indonesia di ICE BSD, Tangerang, Sabtu, 5 Juli 2025.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy dalam seminar nasional Persatuan Insinyur Indonesia (PII) bertajuk Outlook Industrialisasi Indonesia di ICE BSD, Tangerang, Sabtu, 5 Juli 2025. (Beritasatu.com/Hendro Situmorang)

Tangerang, Beritasatu.com – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menyebut reindustrialisasi sebagai langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurutnya, strategi ini dapat menjadi game changer bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

"Kami di Bappenas menilai reindustrialisasi sebagai game changer guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sehingga kita bisa tumbuh. Dengan pertumbuhan itu, kita ingin lepas dari middle of income trap," kata Rachmat dalam seminar nasional Persatuan Insinyur Indonesia (PII) bertajuk Outlook Industrialisasi Indonesia di ICE BSD, Tangerang, Sabtu (5/7/2025).

ADVERTISEMENT

Rachmat menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak cukup hanya berada di kisaran 6%-8%. Untuk dapat bersaing secara global, pertumbuhan ekonomi perlu didorong hingga dua digit. Salah satu kuncinya adalah dengan meningkatkan kontribusi sektor industri manufaktur, yang saat ini masih di bawah 19% terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Kita ingin mengembalikan kontribusi sektor industri ke atas 20% seperti sebelum krisis moneter, bahkan kalau bisa lebih tinggi lagi,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pergeseran jenis lapangan kerja di Indonesia. Banyak pekerjaan yang sebelumnya berupah tinggi kini didominasi oleh tenaga kerja dengan keterampilan rendah (unskilled labor), akibat minimnya pendidikan dan pelatihan kejuruan.

Rachmat menegaskan perlunya kolaborasi antara pemerintah dan organisasi profesi seperti PII untuk mempercepat program reindustrialisasi. Program ini akan dimasukkan dalam dokumen strategis Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.

"Tidak cukup hanya sekedar reindustrialisasi, tetapi reindustrialisasi yang luar biasa, yang hebat. Kita perlu percepatan. Percepatan yang berbasis kepada comparative advantage yang kita punya," tegasnya.

"Kalau kita berbasis pada comparative advantage, dan engineers kita masuk di situ, maka kita akan meningkat pada competitive advantage yang orang lain tidak bisa," tambah Rachmat.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Ekonom Dorong Reindustrialisasi untuk Perluas Kerja Formal RI

Ekonom Dorong Reindustrialisasi untuk Perluas Kerja Formal RI

EKONOMI
Indonesia Tak Akan Maju Tanpa Reindustrialisasi

Indonesia Tak Akan Maju Tanpa Reindustrialisasi

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon