ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Pengesahan UU Cipta Kerja

Indef: Indonesia Harus Gerak Cepat Tangkap Peluang Investasi

Senin, 5 Oktober 2020 | 20:27 WIB
LO
FH
Penulis: Lona Olavia | Editor: FER
Ilustrasi investasi di bidang properti.
Ilustrasi investasi di bidang properti. (ID/David Gitaroza)

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Eksekutif Indef (Institute for Development of Economics and Finance) Tauhid Ahmad menilai, dibutuhkan energi yang besar untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi ke kisaran 5 persen.

"Jika vaksin Covid-19 belum ada dan belum didistribusikan secara merata, target pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen pada tahun depan, terbilang berat," ujar Tauhid di Jakarta, Senin (5/10/2020).

Saat ini saja, kata Tauhid, ekonomi belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Hal itu terlihat dari IHK (indeks harga konsumen) yang belakangan mengalami deflasi yang menandakan lemahnya permintaan.

ADVERTISEMENT

"Jika konsumsi masyarakat pada tahun depan masih lemah, maka sulit bagi Indonesia untuk mengakselerasi ekonomi tumbuh 5 persen. Selama ini, konsumsi masyarakat menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, ekspor impor juga sulit diharapkan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi karena kondisi ekonomi global yang masih suram," tegasnya.

Investasi, menurut Tauhid, sebetulnya bisa dijadikan penopang pertumbuhan ekonomi. Sebab, di tengah situasi seperti saat ini, banyak perusahaan yang memutuskan untuk tidak lagi menggantungkan sumber produksi di Tiongkok dan berencana merelokasi investasinya.

Masalahnya, dampak investasi khususnya penanaman modal asing, ke pertumbuhan ekonomi tidak bisa langsung. Selain itu, investor saat ini juga tengah wait and see, dan mencari negara yang paling aman untuk menjadi basis produksi manufaktur.

"Itu sebabnya, pemerintah perlu mempercepat realisasi investasi mengingat berapapun besarannya sangat berdampak pada pergerakan ekonomi dalam negeri. Untuk itu, pemerintah harus berani menjemput bola dengan memberikan berbagai insentif yang menarik serta berbagai fasilitas dan kemudahan bagi calon investor," ujarnya.

Menurut Tauhid, pemerintah juga harus siap menyediakan insentif maupun fasilitas lainnya sesuai permintaan investor. Sehingga pemberian fasilitas maupun insentif berdasarkan kasus masing-masing. Di samping itu pemerintah perlu melakukan pendekatan terhadap produsen-produsen global. "Tanya apa yang mereka minta dan siapkan permintaan mereka," imbuhnya.

Menanggapi kondisi ini, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) terus mendorong perbaikan iklim investasi di tengah pandemi Covid-19. Investasi diharapkan mampu menyelamatkan Indonesia saat pertumbuhan ekonominya mengalami resesi.

"Di tengah perekonomian yang melambat ini investasi diharapkan akan jadi motor penggerak utama dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, BKPM akan terus bekerja keras dalam menarik investasi masuk ke Indonesia," kata Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal BKPM, Nurul Ichwan.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Kebijakan Tepat Kunci Jaga Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Tantangan

Kebijakan Tepat Kunci Jaga Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Tantangan

EKONOMI
Keberhasilan Program B50 Bergantung pada Penerimaan Masyarakat

Keberhasilan Program B50 Bergantung pada Penerimaan Masyarakat

EKONOMI
Indef: Optimisme Fiskal Harus Diiringi Konsolidasi Nyata

Indef: Optimisme Fiskal Harus Diiringi Konsolidasi Nyata

EKONOMI
Perang Dorong Harga BBM dan LPG Nonsubsidi Naik, Masyarakat Harus Siap

Perang Dorong Harga BBM dan LPG Nonsubsidi Naik, Masyarakat Harus Siap

EKONOMI
Indef Ingatkan Roadshow RI ke AS Harus Diikuti Kredibilitas Kebijakan

Indef Ingatkan Roadshow RI ke AS Harus Diikuti Kredibilitas Kebijakan

EKONOMI
RI Berpeluang Ekspor Pupuk 2 Juta Ton Saat Pasokan Global Terganggu

RI Berpeluang Ekspor Pupuk 2 Juta Ton Saat Pasokan Global Terganggu

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon