BI: US$2 Miliar per Hari, Transaksi Valas Masih Rendah
Senin, 1 Oktober 2012 | 21:08 WIB
Devisa hasil ekspor (DHE) tetap diharapkan peningkatannya, sehingga dapat meningkatkan transaksi valas di pasar domestik yang saat ini rata-rata sekitar US$2 miliar
Bank Indonesia (BI) belum mencatat kenaikan signifikan pada penggunaan instrumen lindung nilai (hedging) terhadap valuta asing (valas) hingga kini. Pasalnya, hedging baru akan marak jika likuiditas valas dapat masuk deras nantinya.
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Hendar mengatakan, belum lama ini BI memang telah membuka instrumen hedging untuk non residen yang minimal 3 bulan menjadi 1 minggu. Namun, kondisinya belum terlalu marak.
“Memang itu bisa digunakan oleh para investor jika ada kebutuhan khusus, terutama kalau situasi tidak menentu, sehingga harus di-hedge. Kalau situasi global membaik, inflow bisa masuk lebih banyak dan pasti ada kenaikan kebutuhan hedging,” kata Hendar ketika ditemui seusai peluncuran Mandiri e-fx di Jakarta, hari ini.
Menurutnya, devisa hasil ekspor (DHE) tetap diharapkan peningkatannya, sehingga dapat meningkatkan transaksi valas di pasar domestik yang saat ini rata-rata sekitar US$2 miliar. Di luar negeri, transaksi valas yang dilakukan oleh bank-bank domestik dapat mencapai sekitar US$4,5 miliar.
“Tapi bukan berarti seluruh US$4,5 miliar itu harus masuk ke Indonesia. Yang diharapkan adalah rata-rata transaksi valas di Indonesia yang sebesar US$2 miliar itu bisa meningkat,” kata Hendar.
Menurut Hendar, tidak mungkin jika seluruh dana valas yang ditransaksikan oleh perbankan Indonesia di luar negeri dibawa masuk ke pasar domestik. Pasalnya, di luar negeri tetap diperlukan dana valas idle untuk kepentingan transaksi tertentu.
Dia mengatakan, dengan adanya inovasi dari perbankan untuk melayani transaksi valas, diharapkan DHE bisa lebih banyak masuk ke Indonesia. Pasalnya, para eksportir melihat adanya kesempatan dan keuntungan yang lebih besar dibanding di luar negeri.
“Jadi mungkin bisa meningkatkan volumenya, karena rate-nya lebih tinggi. Bisa juga karena adanya fasilitas khusus atau infrastruktur yang memudahkan, transaksi bisa lebih efisien,” kata dia.
BI berharap tidak hanya transaksi spot yang berkembang, melainkan juga transaksi derivatif seperti swap dan forward yang selama ini volumenya masih rendah. Dengan demikian, volume transaksi perdagangan valas di domestik bisa lebih cair.
Direktur Treasury, Financial Institutions and Special Asset Management PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Royke Tumilaar mengakui, permintaan untuk transaksi valas yang berasal dari DHE dan menggunakan hedging memang belum banyak di domestik.
“Memang belum banyak yang menggunakan hedging, tapi kami berharap bisa meningkatkan volume transaksi perdagangan valas,” ujarnya.
Direktur Commercial and Business Banking Bank Mandiri Sunarso menambahkan, selama Januari 2012 hingga Agustus 2012, pihaknya telah mencatat DHE yang masuk ke Bank Mandiri mencapai US$36,7 miliar. Namun, dari nilai tersebut, yang dilaporkan dalam bentuk Rincian Transaksi Ekspor (RTE) baru sekitar US$10,3 miliar.
“Mayoritas memang belum dilaporkan dalam bentuk RTE. Saya tidak tahu persisnya kenapa, mungkin masih banyak eksportir yang menilainya rumit. Kami telah membuat laporan RTE agar lebih mudah melalui sistem online, agar eksportir tidak repot datang ke bank,” ungkapnya.
Menurutnya, hanya BI yang dapat melakukan peringatan terhadap eksportir, sedangkan bank hanya menyediakan fasilitasnya untuk pelaporan. Hingga akhir 2012, perseroan berharap dapat meraup DHE sebesar US$63 miliar.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, rencana BI mengeluarkan aturan trustee atau jasa penitipan untuk pengelolaan valas akan sangat menguntungkan bagi perbankan dalam negeri. Pasalnya, ketika dana valas terutama dari DHE masuk ke Indonesia, dana tersebut harus dikelola agar menguntungkan.
Dengan adanya aturan tersebut, menurutnya, perbankan Indonesia perlu mempersiapkan diri terutama menyediakan fund manager handal untuk dapat mengelola dana valas. Tetapi, pihaknya belum terlalu bersiap diri untuk menyambut aturan tersebut, karena pihaknya tidak terlalu besar membutuhkan dana valas.
BCA membatasi porsi dana valas hanya 10 persen atau sekitar US$350 juta untuk dikelola, demikian dengan kredit valas yang hanya sebesar US$2,5 miliar. Saat ini, nilai valas di BCA sudah mencapai US$3,5 miliar dan akan tetap dipertahankan di level tersebut.
“Kami belum mempersiapkan ke arah situ (mencari fund manager khusus), karena kami belajar dari masa lalu. Saat itu ketika pegang dolar dan banyak menyalurkannya ke kredit itu terlalu membahayakan,” ungkap Jahja.
Bank Indonesia (BI) belum mencatat kenaikan signifikan pada penggunaan instrumen lindung nilai (hedging) terhadap valuta asing (valas) hingga kini. Pasalnya, hedging baru akan marak jika likuiditas valas dapat masuk deras nantinya.
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Hendar mengatakan, belum lama ini BI memang telah membuka instrumen hedging untuk non residen yang minimal 3 bulan menjadi 1 minggu. Namun, kondisinya belum terlalu marak.
“Memang itu bisa digunakan oleh para investor jika ada kebutuhan khusus, terutama kalau situasi tidak menentu, sehingga harus di-hedge. Kalau situasi global membaik, inflow bisa masuk lebih banyak dan pasti ada kenaikan kebutuhan hedging,” kata Hendar ketika ditemui seusai peluncuran Mandiri e-fx di Jakarta, hari ini.
Menurutnya, devisa hasil ekspor (DHE) tetap diharapkan peningkatannya, sehingga dapat meningkatkan transaksi valas di pasar domestik yang saat ini rata-rata sekitar US$2 miliar. Di luar negeri, transaksi valas yang dilakukan oleh bank-bank domestik dapat mencapai sekitar US$4,5 miliar.
“Tapi bukan berarti seluruh US$4,5 miliar itu harus masuk ke Indonesia. Yang diharapkan adalah rata-rata transaksi valas di Indonesia yang sebesar US$2 miliar itu bisa meningkat,” kata Hendar.
Menurut Hendar, tidak mungkin jika seluruh dana valas yang ditransaksikan oleh perbankan Indonesia di luar negeri dibawa masuk ke pasar domestik. Pasalnya, di luar negeri tetap diperlukan dana valas idle untuk kepentingan transaksi tertentu.
Dia mengatakan, dengan adanya inovasi dari perbankan untuk melayani transaksi valas, diharapkan DHE bisa lebih banyak masuk ke Indonesia. Pasalnya, para eksportir melihat adanya kesempatan dan keuntungan yang lebih besar dibanding di luar negeri.
“Jadi mungkin bisa meningkatkan volumenya, karena rate-nya lebih tinggi. Bisa juga karena adanya fasilitas khusus atau infrastruktur yang memudahkan, transaksi bisa lebih efisien,” kata dia.
BI berharap tidak hanya transaksi spot yang berkembang, melainkan juga transaksi derivatif seperti swap dan forward yang selama ini volumenya masih rendah. Dengan demikian, volume transaksi perdagangan valas di domestik bisa lebih cair.
Direktur Treasury, Financial Institutions and Special Asset Management PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Royke Tumilaar mengakui, permintaan untuk transaksi valas yang berasal dari DHE dan menggunakan hedging memang belum banyak di domestik.
“Memang belum banyak yang menggunakan hedging, tapi kami berharap bisa meningkatkan volume transaksi perdagangan valas,” ujarnya.
Direktur Commercial and Business Banking Bank Mandiri Sunarso menambahkan, selama Januari 2012 hingga Agustus 2012, pihaknya telah mencatat DHE yang masuk ke Bank Mandiri mencapai US$36,7 miliar. Namun, dari nilai tersebut, yang dilaporkan dalam bentuk Rincian Transaksi Ekspor (RTE) baru sekitar US$10,3 miliar.
“Mayoritas memang belum dilaporkan dalam bentuk RTE. Saya tidak tahu persisnya kenapa, mungkin masih banyak eksportir yang menilainya rumit. Kami telah membuat laporan RTE agar lebih mudah melalui sistem online, agar eksportir tidak repot datang ke bank,” ungkapnya.
Menurutnya, hanya BI yang dapat melakukan peringatan terhadap eksportir, sedangkan bank hanya menyediakan fasilitasnya untuk pelaporan. Hingga akhir 2012, perseroan berharap dapat meraup DHE sebesar US$63 miliar.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, rencana BI mengeluarkan aturan trustee atau jasa penitipan untuk pengelolaan valas akan sangat menguntungkan bagi perbankan dalam negeri. Pasalnya, ketika dana valas terutama dari DHE masuk ke Indonesia, dana tersebut harus dikelola agar menguntungkan.
Dengan adanya aturan tersebut, menurutnya, perbankan Indonesia perlu mempersiapkan diri terutama menyediakan fund manager handal untuk dapat mengelola dana valas. Tetapi, pihaknya belum terlalu bersiap diri untuk menyambut aturan tersebut, karena pihaknya tidak terlalu besar membutuhkan dana valas.
BCA membatasi porsi dana valas hanya 10 persen atau sekitar US$350 juta untuk dikelola, demikian dengan kredit valas yang hanya sebesar US$2,5 miliar. Saat ini, nilai valas di BCA sudah mencapai US$3,5 miliar dan akan tetap dipertahankan di level tersebut.
“Kami belum mempersiapkan ke arah situ (mencari fund manager khusus), karena kami belajar dari masa lalu. Saat itu ketika pegang dolar dan banyak menyalurkannya ke kredit itu terlalu membahayakan,” ungkap Jahja.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




