ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Publik Tunggu Langkah Menko Atasi Masalah Pasca Larangan Ekspor Minyak Goreng

Selasa, 26 April 2022 | 10:15 WIB
RS
B
Penulis: Rully Satriadi | Editor: B1
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto. (Handout)

Penetapan DMO itu juga harus melalui kriteria yang tepat dan proporsional. Jadi, tidak mungkin disamakan antara produksi petani kecil dengan petani besar.

Atau, lanjut Deddy, pemerintah bisa saja menugaskan BUMN atau BUMD untuk menyerap sawit produksi petani dan pengusaha kecil untuk diolah menjadi minyak goreng curah dan kemasan. Pemerintah bersama BUMN dan BUMD bisa membangun pabrik minyak goreng di sentra-sentra perkebunan sawit rakyat yang juga bertanggung jawab melakukan proses distribusi atau bersama dengan Bulog.

"Harap diingat, produksi sawit rakyat dan kebun skala kecil hingga sedang itu jumlahnya mencapai sekitar 30% dari total produksi nasional. Hal ini akan memberikan kepastian di tingkat petani dan usaha kecil," ungkap Deddy.

Selain itu pemerintah juga harus membangun storage atau tangki penyimpanan cadangan nasional minyak goreng untuk stabilisasi harga.

ADVERTISEMENT

Sementara bagi usaha besar, Deddy menilai pemerintah bisa mempersilahkan untuk menjual produksinya untuk produk turunan sawit, biofuel, atau ekspor dengan pengenaan pajak atau levy yang tinggi.

Baca Juga: Cak Imin: Larangan Ekspor Minyak Goreng Jangan Terlalu Lama

"Pemerintah tinggal pilih, kebijakan mana yang akan diambil. Tetapi kebijakan mana pun yang akan diambil harus diputuskan sesegera mungkin," tegas Deddy.

Deddt menilai banyak skenario yang bisa diambil pemerintah. Misalnya dengan menugaskan BUMN seperti PTPN dan RNI, untuk secara khusus memproduksi minyak goreng curah, yang kebutuhannya mencapai 200 juta liter per bulan atau sekitar 1,6 juta ton per tahun.

Sisanya ditutup melalui produksi sawit rakyat yang diolah oleh sinergi BUMN-BUMD di daerah-daerah. Ini terutama menyangkut kebutuhan rumah tangga yang berada di kisaran 3,4 juta ton per tahun.

Oleh karena itu, menurut legislator jebolan Kingston University London tersebut, Menteri Kordinator Bidang Perekonomian haruslah bergerak cepat dan dalam waktu singkat. Khususnya memutuskan kebijakan yang akan ditempuh untuk memberikan kepastian.

"Saat ini semua menunggu terutama petani sawit kecil dan bahkan konsumen di seluruh dunia. Kalau berlarut-larut dan tidak ada kejelasan dalam sebulan ini, saya menganggap Menko gagal total, dan harus dievaluasi bersama semua menteri di bawah koordinasinya," pungkas Deddy.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Menyulap 6 Juta Liter Minyak Jelantah Program MBG Jadi Energi Hijau

Menyulap 6 Juta Liter Minyak Jelantah Program MBG Jadi Energi Hijau

EKONOMI
HET Minyakita Bakal Disesuaikan, Mendag: Sudah sejak 2024 Tak Naik

HET Minyakita Bakal Disesuaikan, Mendag: Sudah sejak 2024 Tak Naik

EKONOMI
Bulog Pastikan Distribusi Minyakita Tak Terhambat

Bulog Pastikan Distribusi Minyakita Tak Terhambat

EKONOMI
Harga Minyak Goreng Naik Dipicu Lonjakan Kemasan Plastik Global

Harga Minyak Goreng Naik Dipicu Lonjakan Kemasan Plastik Global

EKONOMI
Mendag Masih Pertimbangkan Rencana Naikkan HET Minyakita

Mendag Masih Pertimbangkan Rencana Naikkan HET Minyakita

EKONOMI
Harga Minyak Goreng di Pasar Palmerah Tembus Rp 24.000 per Liter

Harga Minyak Goreng di Pasar Palmerah Tembus Rp 24.000 per Liter

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon