ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

4 Faktor Penentu Keberhasilan Redenominasi

Rabu, 23 Januari 2013 | 14:21 WIB
B
BA
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Ilustrasi mata uang rupiah.
Ilustrasi mata uang rupiah. (Antara)
Dukungan seluruh lapisan, saat kondisi stabil, ada landasan hukum kuat, dan kampanye yang baik.

Jakarta -
Bank Indonesia (BI) mencatat empat faktor utama yang dapat menjadi penentu berhasil atau tidaknya program penyederhanaan nilai mata uang rupiah (redenominasi). Keempat faktor tersebut disimpulkan dari pengalaman yang dimiliki oleh negara-negara yang berhasil melakukannya.

"Negara-negara yang sukses melakukan redenominasi adalah Turki, Rumania, dan Polandia," papar Gubernur BI Darmin Nasution dalam sambutannya pada Kick Off Konsultasi Publik Perubahan Harga Rupiah: Redenominasi Bukan Sanering di Jakarta, Rabu (23/1).

Berdasarkan kajian BI, faktor pertama mengapa redenominasi berjalan sukses di negara-negara tersebut yaitu adanya dukungan kuat dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk pemerintah, parlemen, pelaku bisnis, dan lain-lain. Kedua, redenominasi harus dilakukan pada saat kondisi ekonomi dan sosial-politik berjalan stabil.

Ketiga, harus tersedia landasan hukum yang kuat, sehingga harus dibuat Undang-Undang (UU). Pemerintah telah menyerahkan draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Perubahan Harga Rupiah atau Redenominasi kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan telah masuk dalam Proposal Legislasi Nasional (Prolegnas) 2013.

"Keempat, harus dilakukan kampanye publik dan edukasi yang intensif," tegas Darmin.

Dalam 3 tahun terakhir, lanjutnya, perekonomian mampu bertumbuh stabil di atas 6 persen. Nilai tukar rupiah dapat dipertahankan untuk relatif stabil. Namun, dia tidak memungkiri kondisi wilayah negara yang luas, budaya yang beragam, serta status ekonomi dan sosial yang bervariasi membuat proses redenominasi memerlukan waktu yang cukup panjang.

"Diperkirakan akan memerlukan waktu minimal 6 tahun," imbuh Darmin.

Darmin mengatakan, kajian akademis mengenai redenominasi sebenarnya sudah dilakukan sejak 2007 secara komprehensif. Kajian tersebut dilakukan dengan menggali pengalaman di berbagai negara, analisis kemungkinan implementasi di Indonesia, pentahapan pelaksanaannya, serta analisis risiko dan mitigasinya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Uang Palsu Turun Drastis, BI Ungkap Rupiah Makin Sulit Dipalsukan

Uang Palsu Turun Drastis, BI Ungkap Rupiah Makin Sulit Dipalsukan

EKONOMI
BI–Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

BI–Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

EKONOMI
BI dan Polri Musnahkan Uang Rupiah Palsu

BI dan Polri Musnahkan Uang Rupiah Palsu

MULTIMEDIA
Puan Desak Pemerintah Tahan Rupiah seusai Tembus Rp17.500

Puan Desak Pemerintah Tahan Rupiah seusai Tembus Rp17.500

NASIONAL
BI Yakin Pengakuan IMF Perkuat Persepsi Positif Pasar

BI Yakin Pengakuan IMF Perkuat Persepsi Positif Pasar

EKONOMI
BI Sebut Dolar AS Jadi Primadona saat Konflik Iran

BI Sebut Dolar AS Jadi Primadona saat Konflik Iran

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon